Sesuatu di seberang berbisik: kamu pengen nulis fiksi

clown-paintings-sucking-throat

Sesuatu yang ada di seberang hanya fiksi guys. Tapi kalau saya pengen nulis fiksi itu bukan fiksi. Loh? Ya pokoknya begitu

Setelah buku berisi puisi-puisi masa SD ditemukan diantara reruntuhan dan kemudian saya bakar, saya sadar banget mungkin sepuluh tahun dari sekarang blog ini akan saya musnahkan dengan alasan cringe.

Kadang punya pikiran ngawur sih, apakah kalau Soe Hok Gie masih hidup dia akan breidel semua penerbit yang menerbitkan diarynya? Kalau iya, berarti dia merasakan hal yang sama.

Hari ini saya dengerin lagunya Maliq n D’essential yang judulnya Pilihanku, memang bener sih ada berjuta rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Saya kayaknya mikir kejauhan kalau ini adalah soal pikiran-pikiran goblok yang kadang-kadang nampak jenius yang ada di kepala saya yang rasanya sulit buat sekedar dikatakan. Ibarat kentut, berharap kenceng sampe kecirit tapi yang keluar hanya rembesan angin 0,-sekian mph.

Kadang punya angan-angan nggak penting kalau apakah di akhirat nanti semua pemikiran kita bakal bisa dimuntahkan? Katanya nggak ada hal yang nggak mungkin kan? Bener aja sih kalau Tuhan bilang ilmu tuh luas banget, karena isi otak manusia bahkan lebih besar dari sekedar alam semesta. Isi otak manusia inilah yang bisa dicreate lagi jadi ilmu. Dan kalau semua pohon di dunia ini dijadikan pena, dan air laut adlah tintanya, tetep aja nggak bisa untuk mencurahkan semuanya.

Wow. Amazing. Tapi ini celotehan nggak penting. Adios.

Anyway, saya pengen nulis fiksi yang dark dark gitu lho, yang gelap, yang suram. Sabodoooo!

REALISM dan IDEALISM lewat BATMAN: The Killing Joke

Saya kali ini nggak akan ngomongin argumen filsafat, nggak juga membahas teori-teori fisika. Saya cuma mau surhat. Susu dan firtsa hat. Halah!

Orang-orang idealisme saya salut, mereka selalu mengkhawatirkan kita, para realism yang bodo Image result for the killing jokeamat. Jujur saya terharu sih mereka mau njelimet mikirin hal-hal yang bahkan buat orang realis itu akan berlalu ketika kita minum kopi. Jadi inget adegan di film animasi the best yang sokthe best, The Killing Joke. Film ini dibintangi oleh gambar-gambar coretan DC comics. Hahaha animasi, oke baiklah. The Killing Joke aslinya adalah sebuah novel eh atau comic tahun 1988 karangan Alan Moore dan diilustrasikan oleh Brian Bolland. Pada akhirnya ini di filmkan di tahun 2016 oleh honourable Sam Liu.

Film ini merepresentasikan seorang Joker yang berlatar belakang orang susah dan dihimpit masalah kanan kiri depan belakang. Dengan keterpaksaan Joker kemudian jadi boneka para penjahat yang bermaksud menghancurkan Batman. Joker dipaksa menjadi Red Hood, tokoh fiktif buatan para musuh Batman dan diciptakan untuk membuat Batman takut. Well, Batman nggak takut apapun guys, bahkan mungkin sama Tuhan (lol, jangan serius). Singkat ceritanya, dalang dibalik Red Hood tewas ditembak polisi dan Joker, cuma ketakutan dibalik topeng, melihat Batman dan grogi dan tremor kemudian jatuh keserimpet jubah merahnya dan nyemplung lah dia di cairan toxic yang akhirnya ngebuat dia gila. Setelah gila dia jadi kaya, anyway.

Jalan cerita dari film ini kemudian menggiring penonton menyaksikan kedua kubu; Joker dan Batman, Realism dan Idealism. Tim Idealism digawangi oleh Batman, Gordon, dan Cat Woman. Sedangkan tim realism? isininya Joker dan para pemain sirkus yang well saya nggak mau bilang buruk rupa, mereka cuma antik aja. Tujuan Joker itu bukan uang, bukan juga vengeance ke Batman, dia tahu persis dia jadi gila bukan karena salah Batman. Tujuan dia sangat ma’rifat guys. Dan dugaan saya sementara si Joker cuma pengen stand up comedy depan Batman, udah itu aja. And that’s how the movie ends.

Realism dalam The Killing Joke digambarkan sebagai sebuah kesalahan bagi para idealis, sebagai penyakit. Inget, film ini memilih view Batman, jadi menurut film semua penonton adalah idealism. Tapi kalau mau sedikittt aja merenung, ciaaa, Joker sama sekali nggak jahat, apa yang dilakukan dia itu wajar (kalaupun batasan wajar yang dimaksud adalah younglex dan awkarin). Banyak juga yang beranggapan kalau Joker sejatinya dalah super sanity, super waras, jadi sebenernya yang lain gila waktu kita merasa dia yang gila. What is normal anyway, duh.

Ending dari film ini sangat epic. Ketika Joker sudah terpojok oleh Batman, mereka side to side, saya pun waktu itu wondering, apa yang bakal dilakuin Batman ke Joker. Ternyata Batman, decided to give mercy on him. Batman ingin Joker buat memulai kehidupannya lagi, mulai dari awal. Batman juga janji untuk membantu Joker bangkit, Batman mengulurkan tangan, dan Joker cuma “Well…” lalu berdiri tanpa menyambut uluran tangan Batman. Idealisme mmenilai apapun yang sedang dia kerjakan adalah hal yang baik, idealisme mengulurkan tangan agar para realis mulai berpikir, nggak ngopi terus. Ketika Joker menolak tawaran Batman, saya tahu persis orang realis pun idealis. Mereka idealis bahwa mereka akan stay pada jalan realis mereka. Nah lo pusing pusing dah.

Joker pun akhirnya menceritakan sebuah cerita basi ke Batman, yang cukup menggambarkan keadaan mereka, dan ini dia anggap sebagai joke. Joker menceritakan ada dua orang gila yang berusaha kabur dari RSJ, ketika akhirnya mereka menemukan jalan keluar lewat atap, orang gila pertama melompat untuk menyeberangi celah antargedung dan mendarat di atap gedung lain. Orang gila kedua tidak punya keberanian melompta. Dia bingung dan terdiam. Orang gila kedua hampir menyerah sampai orang gila pertama berkata, “Lompatlah, aku punya sebuah senter, aku akan menerangi celah antar gedung ini sehingga ini akan menjadi jembatan yang kamu tapaki untuk menyeberang”. Orang gila pertama menjawab “Hey apa kau gila?Tentu saja aku tidak mau, aku tau kamu akan mematikan senternya ketika aku berjalan diatasnya.”

Nggak lucu sama sekali. Sumpah. Miris. Tapi Joker tertawa terbahak-bahak disusul Batman yang ketawanya kaya gemuruh baday. Mereka tertawa bersama di tengah hujan.

Baik, jadi ini namanya meta metafora, entah apa istilah dari double meta. Dua orang gila itu adalah realism dan idealism. Orang gila pertama itu adalah Batman, si idealism. Dia cerdas memang dan dialah orang yang mengambil tindakan berani untuk lompat gedung. Dia pun orang yang baik, karena dia peduli temannya, dia tidak serta merta meningglakan temannya yang belum berhasil lompat gedung. Tapi cara menolong yang dia tawarkan hanyalah ilusi, mustahil. Orang idealism bener-bener pengen nolong orang realism dan cara mereka memang nggak pernah tepat.

Orang gila kedua, si realis, si Joker. Dia sebenernya ingin melompat gedung dan terbebas dari kekangan Rumah Sakit Jiwa, tapi dia tidak berani mengambil resiko. Dia diam dan menunggu pertolongan entah dari orang lain atau dari dirinya sendiri yang mungkin suatu saat akan siap. Ketika dia ditawari pertolongan oleh orang gila pertama, dia menolak harga mati. Tapi alasan dia menolak out of context banget. Orang realis nggak pernah tau contextnya tapi pilihan dia benar. Shame. Ah dunia ini gila.

Baiklah jangan terlalu idealis, guys. Menanggung beban pikiran para realis itu useless, mereka bahkan nggak ingin kalian pikirkan. Dan jangan terlalu realis guys, take a risk some time untuk melihat apakah kamu akan jatuh jika melompat gedung (tentu saja nggak perlu bantuan jembatan senter). Idealis dan realis, adalah ide bagus untuk mencari tahu kalian lebih condong kemana, tapi nggak usah terlalu loyal sama patokan itu. Keadaan yang dibentuk Tuhan atas kita bukan sebuah angka yang bisa ditentukan sama bilangan biner satu dan nol, iya dan tidak, kunyah dulu problemnya baru putuskan bakal kamu telan atau muntahkan. Bisa aja yang kamu kunyah antara gorengan dan cabe jalapeno, kalo kepedesan ya cukup cabenya aja yang dimuntahin, oke?

Menyambut februari dan final season Bates Motel

—–Yth innocent people, tulisan ini mengandung SPOILER. Nonton lah dulu series Bates Motel dan prequel PSYCHO biar kita ngobrolnya enak.

Setelah selesai menonton season 4 finale Bates Motel yang bikin merinding bulu disko, saya tahu pasti Norman “Freddie Highmore” Bates sudah mulai mendekati Norman “Anthony Perkins” Bates, dan evolve nya akan menjadi sempurna di season 5. Bravooooohh! Saya pun semakin sedih. Jujur saja belum ada sinetron dan drama atau film manapun yang berhasil bikin perasaan saya bener-bener dibolak balik. Antara rasa kasian dan pengen menyayangi mamas Norman Bates atau rasa benci dan gregetan karena dia kejinya minta ampun.

Ketika scrolling scrolling home instagram, nggak sengaja saya lihat postingan Freddie Highmore yang intinya dia semakin dekat dengan season finale. Rasanya nggak pengen ini series berakhir begitu saja, tapi karena series ini ada prequelnya, yang mana adalah masa-masa setelah Norma Bates hanya hidup dipikiran Norman, saya nggak mungkin ngeyel untuk minta series ini diteruskan sampai Freddie punya anak, ini bukan supernatural kan?

Benar saja, nggak lama kemudian Freddie juga ngeposting info-info kesiapan Final Season Bates Motel. Sedikit surprise berhadiah, Rihanna bakal meranin Marion Crane di series Bates Motel. Awalnya nggak percaya, setelah cek IMBD baru percaya.. Nah herannya, Rihanna cuma main 1 episode. Artinya mungkin aja petualangan Norman Bates di prequelnya bakal disikat habis di final season. Yang mana kalau pun begitu adanya saya harap cerita bakal dibelokkan atau dibuat beda, karena nggak akan surprise kalau udah tau keseluruhan plot nya. Banyak juga fans yang berharap gitu, ada juga yang kesel kenapa langsung tetiba tokoh Marion Crane ini masuk.

Ada yang sedikit ngeganjel, tokoh Dylan Massette, kakak tirinya Norman dan pacarnya yang juga sahabatan sama Norman yaitu Emma, apakah bakal ditampilkan lagi di season ini? Yang jelas waktu comic con 2016 kemarin si Emma nggak dateng, tapi Dylan (Max Theriot) dateng. Nggak mau spekulasi juga, karena bang Maximillion Theriot (namanya cukup funny) juga bakal menyutradarai beberapa episode di season 5. Dan lagi, di prequel nggak ada loh tokoh Dylan and Emma togetha foreva.

Harapan dan harapan kembali datang kalau aja si Norman bisa disembuhin, tapi semua itu mustahil karena kita udah liat prequelnya-dimana Norman unstoppable psychotic. Sampai dia tuwir, kisut, dia masih penyakitan jiwanya dan ngebunuhin orang nggak jelas. Ini pedih bro! Pedih teramat pedih. Gimana sih rasanya nonton film seru tapi udah tau endingnya? Mending kalau endingnya tuh ngebayar, worthy, lah endingnya psycho aja bikin gregeling ati. Ibarat kamu makan enak bat trus kamu tau itu bakal berakhir jadi tai dan tainya mencret pula. Duh lara.

Jadi bodo amat dah kalo lagi diare yang penting masih enak ngunyah ya nggak apa-apa. Daripada laper dan pengen?Aku tanpa series Bates Motel bagaikan diare tanpa boleh makan. (ini apaan sih, oncom).

Well teaser final season udah out di AE, banyak juga yang share di youtube. Silakan dilihat. Norman Bates di season 5 bakal freak as hell. Dan kita bakal kasian sama Vera Farmiga yang acting jadi mayat terus, eh susah lho acting jadi orang mati tuh, beneran, mana dia melek lagi. Kan kelopak matanya udah di lem sama si oncom satu onoh si Norman.

Kasih tau yak, kalau diantara kalian ada yang hobi juga nonton film genre psycho-thriller begini, bukan tipe-tipe jumpscare yang garing lho ya -__-. Terus ceritanya saya butuh rekomendasi series/film selanjutnya, soalnya yang ini sudah mau kelar kan saya bingung jadinya move on ke series yang mana hhe. Adiozzz.

Sherlock Holmes season finale. Quite good, but I want more!

Bodo amat sama bahasa gue yang campuran.

—–SPOILER ALERT

Episode 3 udah kelar boi, eurus revealed, sherrinford revealed, redbeard revealed. And two besties sherlock-watson back to 221B. What a happy ending fairy tale! aw cute *rolling my eyes.

Sebelumnya saya memprediksikan kalau kemungkinan saudara sherlock ini emang cuma eurus yang mana dia perempuan (feminis bro, melebar dikit dari gaya cerita sherlock terdahulu), dan kalau memang cuma eurus aja saudara sherlock dan mycroft, lalu gimana ama sherrinford. Ye kan? Ternyata pertanyaan tentang who is sherrinford holmes? itu adalah pertanyaan yang salah. Wohooo Gatis make his own konteks so we could make deduction..what a clever man. Pertanyaan yang bener adalah: what is sherrinford? Well, serial Sherlock versi BBC ini mendefinisakn sherrinford sebagai sebuah pulau pengasingan untuk eurus holmes. And as I said before, eurus bener bener yang paling jenius dari ketiga holmes bersaudara yang super badass!

Lah kenapa sih fans sherlock ngurusin banget sherrinford? Jadi gini itu ceritanya panjang. Sherrinford pernah dimention sama sang hyang Arthur Doyle di catatan dia, kemudian Bapak Yth William S. Baring-Gould menulis tentang Sherrinford di fictional biography dia tentang Sherlock Holmes. Bapak Baring-Gould menuliskan kalau Sherrinford adalah Sherrinford Holmes, the eldest brother. Berhubung di episode “the lying detective” nama Sherrinford berkali kali dijadikan planting info, maka semua orang bertanya-tanya. Hampir beberapa fans berharap kalau Sherrinford bakal diperankan sama mamas Tom Hiddleston (wich is big NO). Kembali lagi sama post saya minggu lalu, Tom terlalu muda untuk jadi eldest brother, oke jadi cukupkan segini aja harapan palsunya Mark Gatiss yang pake share foto ama Tom (anjay emang tu orang tengil banget PHP maksimal).

Baiklah kalau memang harus meringkas singkatnya, ternyata Sherlock punya saudara perempuan, namanya Eurus. Dia super smart (katanya mycroft, beyond Newton lho). Saking jeniusnya, dia ma’rifat bgt lah istilahnya. Masa dia mau motong nadinya sendiri cuma karena dia pengen tau gimana cara kerja otot dia, so sick. Gimanapun jeniusnya manusia, ternyata dia punya perasaan. Waktu kecil dulu sherlock selalu main bareng sama Victor, dan Eurus jeles dia nggak diajak main. Sherlock sama victor selalu main pirate dimana sherlock jadi Yellowbeard dan Victor jadi Redberad. Eurus nggak pernah diajak main karena dia perempuan dan Sherlock yang pas jaman kecilnya lemot selalu jadi bahan bully Eurus. Dari sebab kecemburuan itulah kemudian si jenius Eurus ngebunuh Victor dengan merantai dia didasar sumur. Hayo, jenius apa psikopat jatohnya?

Karena kejeniusan Eurus memancing tindak kekerasan, maka si kecil dulu diamankan. Karena dia bikin ulah terus terusan(ngebakar rumah, ngebakar pamannya sekeluarga) maka akhirnya dia diasingkan di sebuah pulau bernama Sherrinford, penjara super ketat diabawah naungan Mycroft dimana at least ada 3 kanibal yang juga disel disana.

Sherlock memang nggak ingat dengan sosok Eurus karena trauma luar biasa yang dia alami pasca menghilangnya Victor, Sherlock pun nggak ingat apa-apa tentang masa kecilnya bareng Eurus either Victor. Sejak hari itu dia pun berubah jadi jenius dan cerdik, nggak lemot dan bullyable kaya sebelumnya.

Bagian paling seru dari episode finale ini adalah game yang dibikin sama Eurus dibantu Moriarty (oke dia udah mati tapi sebelum mati dia sudah didayaguna sama Eurus). Game ini nggak cuma sekedar permainan tapi bener-bener menguras semua emosi tenaga pikiran dan wah seru bat pokonya mah. Game ini nggak cuma melibatkan Mycroft, John, dan Sherlock. Tapi juga melibatkan nyawa orang-orang di sekitar mereka. Ini adalah anugrah terbesar di episode ini, besides banyak plot yang kemudian kalau dipikir ewww wtf. Game yang disusun Eurus itu ibarat puzzle tapi jenius banget. Bravo, you go girl! Silakan kelen nonton aja kalau nggak percaya (kalo belum nonton sik.)

Ada salah satu stage game yang bikin saya merinding disco tapi ah sudahlah abstrak. Ketika Sherlock harus mancing Molly Hooper untuk bilang I LOE YOU ke sherlock, karena kalau enggak, Molly diancam bakalan dibunuh sama Eurus. Bukan karena saya dangdut banet sama kisah cinta yang dibangun diatas prahara begini, tapi karena saya tambah kagum sama karakter Sherlock. Sherlock memang nggak sepintar Mycroft, tapi Sherlock punya rasa kemanusiaan yang lebih riil daripada Mycroft, apalagi Eurus.

After all, season ini nggak begitu menyenangkan seperti sebelumnya. Rasanya kurang mantep dan penantian panjang ini sama sekali nggak dibayar impas. Saya yakin banget rating pasti turun. Maka itu kalau mereka mau bikin season 5 yang dikemas dengan lebih epic, mungkin ini semua akan terbayar. Itulah kenapa ini cukup bagus aja, quite good. Tapi saya pengen ada Sherlock lagi, keluarbiasaan serial ini diawal nggak seharusnya diakhiri dengan kriuk dan garing. Saya pengen ada season 5, bukan karena ketagihan, tapi karena rasa haus saya belum hilang.

Buat bonus saya akan membahas khusus tentang Molly Hooper, karakter perempuan favorit saya.

It’s beautiful how she loves Sherlock, and more beautiful she still loves Sherlock even tho she know Sherlock didn’t.

Manusia paling tulus dalam serial tv Sherlock Holmes bukan John Watson, paling enggak dia bisa bilang “enggak” sama Sherlock. Tapi Molly?  You are the most authenthic.

Dokter bedah ini emang sangat polos, tapi ketulusan dia sama sherlock ngasih pelajaran ke saya tentang definisi tulus itu apa. Molly awalnya kagum berat sama sherlock, dan karena Sherlock memang pribadi yang supercool, cewe kayak Molly gak mungkin gak tertarik. Molly Hooper adalah sosok yang bakalan gugup deket sama Sherlock, dia bukan cewek yang punya super confident macem Irene Adler. Molly, sudah berusaha berkali-kali mati-matian ngelupain Sherlock dengan dia kencan sama orang yang ternyata Moriarty, kemudian kencan sama cowo sociopath yang style-nya Sherlock banget. Dia sudah die trying, tapi kemudian Sherlock yang selalu ngusik hidupnya dia, butuh bantuan dia, bikin iman Molly goyah lagi.

Molly selalu tahu Sherlock nggak pernah cinta dia, dia tahu persis, bahkan dia paham dia sama sekali bukan tipenya Sherlock. Tapi Molly nggak pernah menolak apapun sama Sherlock. Ketulusan Molly keliahatan lagi di season ini waktu dia meriksa kondisi Sherlock yang kecanduan obat-obatan. Molly bahkan nangis, dan dengan entengnya Sherlock menganggap Molly aja yang berlebihan.

Tulus itu ketika apa yang kita lakukan sama sekali nggak mengharap bayaran. Kalau kata orang dalam hubungan harus ada yang namanya take and give, dia cuma give aja. Bahkan dia nggak berharap dianggap tulus, dia melakukannya tanpa sadar bro. Malaikat banget anjay.

Puncaknya adalah ketika game yang dibikin Eurus melibatkan Molly. Sherlock harus memancing Molly buat bilang I love you. Saya seneng waktu Molly bilang “I cant say that, because it’t true.” Oke allright, ati saya kaya diiris. Molly jelas ngira Sherlock cuma main-main, Molly nggak tau kalau Sherlock dibawah tekanan Eurus. Sherlock kan emang tengil, otomatis Molly ngira Sherlock cuma cari hiburan aja ke dia. Molly pun akhirnya nyuruh Sherlock bilang I LOVE YOU duluan ke dia. Sherlock akhirnya bilang I LOVE YOU dengan sangat enteng dan kedengeran super nggak tulus. Molly nyuruh lebih serius, oke Sherlock bilang I LOVE YOU lagi tapi tetep kedengeran nggak tulus. Pada akhirnya Molly tetep bilang I LOVE YOU juga ke Sherlock dengan yaaaa….begitulah. Di detik-detik terakhir dimana Eurus bilang bakal ngledakin apartemennya Molly. Setelah telepon ditutup Eurus bilang jujur kalau sebenernya itu cuma tipu daya dia, nggak ada bom di apartemen Molly. Boom. Sherlock ngerasa bersalah banget, dia ngerasa kasihan sama Molly yang jadi objekan terus dari dulu, Sherlock tahu banget arti ketulusan Molly tapi dia nggak bisa bikin itu lebih baik karena bahkan Sherlock nggak bisa memaksakan dia buat ngerasain hal yang sama ke Molly kan? awwwww too bad. Sherlock pun esmoni, itu bukan siksaan fisik, tapi siksaan batin dan kemanusiaan.

Dunia ini selalu penuh dengan hal-hal yang tidak terbalas, kata-kata yang unspoken, perasaan yang tidak terdefinisikan, dan lain lain dan lain lain. Dan lain-lain adalah contoh kata-kata unspoken.

Back to the case. Lalu gimana kah kelanjutan nasib mbak Molly? Cerita ini menarik tapi sayang banget nggak dikasih tambahan scene sama Moffat. Fans Sherlock akhirnya bertanya-tanya dan dijawab sama Moffat di Entertaiment Weekly, kurang lebih begini.

”Surely at a certain point you have to figure out that after Sherlock escapes tells her, ‘I’m really sorry about that, it was a code, I thought your flat was about to blow up.’ And she says, ‘Oh well that’s okay then, you bastard.’ And then they go back to normal, that’s what people do.

“I can’t see why you’d have to play that out. She forgives him, of course, and our newly grown-up Sherlock is more careful with her feelings in the future. In the end of that scene, she’s a bit wounded by it all, but he’s absolutely devastated. He smashes up the coffin, he’s in pieces, he’s more upset than she is, and that’s a huge step in Sherlock’s development.

“The question is: Did Sherlock survive that scene? She probably had a drink and went and shagged someone, I dunno. Molly was fine.”

Memang nggak memuaskan, dan Loiuse Brealey pemerean Molly Hooper pun nggak terlalu puas sama ending cerita Molly dan Sherlock. Ini potensial Moff, dont you see? Kemudian ayo bikin lah season 5 untuk memperbaiki season 4 yang kaya krupuk ini; renyah tapi nggak ngenyangin. Seribu sayang, hanya Tuhan, Mark Gatiss, dan Steven Moffat yang tahu bakalan ada season 5 atau nggak. Season 4 sudah cukup jelas finishing line-nya kalau itu adalah tanda-tanda goodbye, persis seperti lambaian tangan dalam semiosis manusia yang mengucapkan perpisahan.

Akhir kata, baca juga thread saya sebelumnya tentang sherlock, disini.

Sherlock Holmes 4 Deeper review – who is Euros Holmes-Where is Sherrinford Holmes

Its not kinda surprise
when we see Sian Brooke (who plays as Euros) appears in this season. It turned out that Sherrinford who’s Mycroft ever mentioned before, still keep in pandora box by Moffat and Gatiss. Who the hell is Euros? Some of you maybe wonder, considering Sir Conan Doyle have never mentioned her before.

Rumour fly when Gatiss, Abbington, and Tom Hiddleston took a picture in one frame and Mark Gatiss tweeted it. The rumour says that Tom will play Sherrinford Holmes in this incredible series. But till today, we never know. All we had now is this additional female character who described with damn talented. She is smart enough to predict sherlock’s prediction so her scenario run smoothly. She also disguises as Faith Smith (Serial Killer-Culverton Smith’s- daughter) and as”E”-the woman in bus who have flirting condition and religiously text John Watson before Marry Watson gone.

In my theory, she is the one who relatable with Moriarty, the clues of Moriarty are too clear to ignore. We’ve seen a lot of that holy “miss me” sign (oh Im bored with this) in the poster, in Marry’s DVD made for sherlock, and in the paper Faith Smith fake brought to sherlock. Its too naive to ignore a sense of Moriarty. But instead of hoping this character back from death, I’d rather watch a new monsters like Culverton and maybe Eurus. If only Moriarty is the one behind all of this, its still a huge possibilities. Why? beacause The goddamn Professor Jim Moriarty is the clever one, remember? But the fact that bothers me is why “miss me” sign stick onto Marry’s farewell DVD either? Its sooo many possibilities where the cretaors could develop.

Some of people maybe pissed off how come the superbly genius Sherlock couldnt recognise his sister and John’s therapist are the same person?I presume, Sherlock have a condition where he oftenly fails to recognise people. Remember he never recognise Greg, rite? But its kinda too far if we judge sherlock have prosopagnosia-a condition when people hardly recognise face- (CMIIW). And John Watson, he met his “E” once. Make sense.

Move over, sherrinford…. We heard Mycroft mention that name when he track sherlock after he going out from flat with fake Faith Smith. Then we’ve seen this….

Are we gonna introduced with a new character again, yet? Or its just yes sherrinford and eurus are the same person (yeah BBC change sherrinford into female charachter because the other one female character is dead-a feminist issue maybe?). Still i hope Sherrinford will played by Tom Hiddleston (the taylor swift’s ex boyfriend..errr lol). But I think its too weird to be true, Sherrinford is the oldest among holmes brother (according to Conan Doyle’s). How come the angelic face half asgardian Hiddleston could be older than Mycroft?

Other ways, some critics says that this season so far still has some plotholes. Some of them are because of Eurus character development. What we’ve been wait about this series is when we witness Sherlock’s surprisingly unpredictable moment, but it just not too great as before.

Pardon my grammar. Still learning. 😀

Dejavu dan obrolan subjektif SHERLOCK HOLMES season 4 review

Sebegitu lamanya nunggu serial TV warbiasa ini muncul, akhirnya penantian itu berakhir gaes. Kelen yang hobi sama si “Smart is the new sexy” creature ini pasti ngerasaian hal yang sama. Tapi setelah tayang episode 1, menurut kelen apakah yang kelen tonton ngebayar penantian lama kelen???

————-SPOILER ALERT

Saya nggak mau jadi kriminal ya, saya udah ngingetin buat kalian yang belum nonton mendingan jangan baca curhatan saya berikut soalnya mengandung bocoran. Tapi kalau kalian tipe yang suka dapet jawaban sebelum ujian, ya nggak apa-apa lah, mungkin saking penasarannya. Ngobrol-ngobrol sebagai interopeksi terhadap tulisan saya terdahulu yang keminggris, saya pengen bat ngomong pake bahasa indo yang ouke tapi nyenengin, tapi tetep terasa cucok. Tapi maapkeun lah  kalo masih acak adut.

EPISODE 1 — AKU RINDU  STEVEN MOFFAT

Setelah selesai nonton episode 1, saya berasa ada yang kurang. Semacam nyusun lego tapi terasa nggak simetris. Ada beberapa plot chart (ini sebutan ngawur saya buat naik turunnya klimaks/ jalan cerita) yang agak beda. Setelah saya kepo, ternyata yang nulis script Mark Gatiss, padahal aku rindu intriknya Steven Moffat. Mark Gatis si pinter banget ngebawa karakter dan memunculkan sense humor, tapi kalo dia nulisnya secara solo tanpa babang steve, kayaknya kurang genep dikit. Mereka sepertinya hiatus sejenak.

Ketika dengan histeris saya buka situs streaming ilegal demi sherlock, saya masih ngeraba-raba cerita dan karakter mereka (saking lupanya boi, lama bat sih nunggu tayangnya!). Beneran saya sampe lupa Magnussen siapa, Lady smallwood kaya pernah liat ketemu dimana…kacau lah. Kekacauan itu tambah kacau ketika Gatiss nawarin jalan cerita yang rumit. Kalau diibaratin benang yang ruwet, ini gak cuma melibatkan satu dua benang, tapi tiga benang yang perlu diurai…sampai endingnya benang itu putus (ahelah!). Jadi menurut saya kurang worthed gitu buat sebuah penantian yang berujung crispy. PS:John ama Mary officially punya momongan sudah.

Di episode 1 ini ada unusual case, dimana itu lebih fokus ke Mary Watson, dari awal ketebak banget kenapa karakter Mary diekspos, ya karna mau dibunuh. Ternyata bener, endingnya Mary mati ditembak seorang cabe-cabean senior di seaworld dufan. Wow cukup funny. Rumitnya dimana? rumitnya itu ada di clue-clue yang dibikin Gatiss. Rasanya emang niat diruwetin diputer-puterin biar kita -para pencari sesuatu yang bahkan tak meminta jawaban (hazeggg..)- nggak menyangka endingnya bakal begitu. Emang ini kan, point utamanya serial TV sherlock holmes?

Gatiss memecah fokus pemirsa ke 3 hal (3 benang); moriarty, AGRA+ammo, dan blackpearl. Meskipun ada benang-benang lain yang ga begitu penting dan sifatnya buat menggiring clue doang yaitu kasus si anak yang kebakar di mobil. Pada akhirnya ternyata AGRA dan blackpearl ini saling berkaitan, si Ajay (ex anggota AGRA, sohibnya Marry)yang dikiranya mau maling mutiara hitam malah nyolong flashdisk. Yasalam bang, kalo mo nyolong flashdisk di warnet aja bang, noh banyak flashdisk tak bertuan yang ketinggalan.

Endingnya cukup uhuy dengan sherlock yang ditodong pistol sama cabe cabean, ditembak, tapi dicegah sama Mary, akhirnya Mary dong yang tewas. Yahhh padahal female karakter satu ini cukup keren karna dia pinter. Mary tewas dan John depresi abes, sherlock juga ngerasa bersalah. Trus gimana sama moriarty? Ya tentu, buat bahan materi di episode 2 brai.

Moriarty udah mati plis, mati aja. Soalnya saya bosen sama karakter ini. (Lebih tepatnya insecure).

Dari keseluruhan episode 1, ceritanya mengundang emosi iya (soalnya temen ada yang sempet gregel ampe nangis gegara Mary wassalam), trus editanya ihir banget lah sedap, tapi diluar itu semua kasus-kasus sama unsur ke-keren-annya abang Sherlock kurang jeger dan tergolong B aja sih. (subjektif ya ini)

EPISODE 2 — FEEL ITU KEMBALI YAY

Ada sebuah perasaan abstrak yang nempel di sukma ini setiap nonton series yang kita suka. Kaya waktu nonton Bates Motel, ada perasaan goblok yang dibolak-balikin antara mau cinta atau benci sama Norman Bates. Sama kaya sherlock, nonton sherlock yang selalu nggak ketebak dengan perhitungan preciselynya itu bikin kita ngerasa sherlock keren. Kita semua cinta sherlock jadi waktu yang karakter yang kita cintai itu jadi keren kita jadi makin sayang. Utuuuk utuk…

Di episode 2 yang paling cringey itu si Smith yang aslinya serial killer eh dia bakul makanan mereknya CEREAL KILLER. What a name, still not obvious. (Yalord ngomong inggris lage.) Hadeh. Lebih lucunya si serial killer ini diperankan oleh the cutest Tobey Jones. Lol.

Oke waktu pertama ngelihat om benedict di episode 2, saya dejavu sama Dr. Strange. Sumpah mirip (yaiyalah tolong!). Penampilan om ben udah nggak kaya sherlock pas episode 1, sociopath abes, sekarang dia terasa lebih mature, lebi macho, lebi awr. (Maafkan hormon estrogen). Kemudian muncullah si karakter mba-mba cantik yang ternyata adiknya sherlock. Wow surprise…

Saya punya sedikit firasat nih kalau yang ngaco bikin model boomerang “miss me-miss me”(munggkin instagram boomerang terinspirasi dari ini) sampe di seluruh videotron London dan di gadget manusia-manusia onoh itu sejatinya si adenya sherly eh sherlock. Liat aja produk keluarga Holmes, mycroft, sherlock, nah ini satu lagi si manis pasti dia juga jenius tingkat alam mimpi nih. Clue ini juga didapet karena dia waktu ngasihin kertas tentang aib Culverton Smith ke Sherlock (sebelumnya dia nyamar jadi anaknya Smith) pas di sorot ultraviolet ama sherlock belakangan ternyata ada tulisannya “MISS ME?”. Kemungkinan dia biang keroknya selama ini nih.

Episode 2 ini baru rasanya ngebayar kekangenan saya ama sherlock, selain hormon estrogen yang terpancing akibat om ben, jalan cerita ala-ala babang steve moffat yang saya rindukan juga sudah kembali. Tapi ada something bothers me. John Watson yang sangat berduka karena kehilangan Mary tetiba punya alter ego berwujud Mary, dengan sadar dia berdialog terus sama Mary, di mobil, di jalan, pas sama sherly, kapan aja lah. Jadi inget Psycho, jadi inget bates motel deh masalah ama alter ego begini. Ditambah kasus di episode ini yang pembahasannya tentang serial killer, hemmmm, kenapa jadi bau genre psikologi gini sih. Bedanya secara sadar John ngerti banget Mary udah wassalam dan yang dia ajak ngobrol cuma alter egonya dia. Kalo si Norman Bates kan emang ya adeuh lah wallahualam. Harapannya sih John semoga ga jadi psikopat gegara tekanan psikologis ini terus yah. Sabar ya om hobbit. Lagian ini kan Sherlock Holmes, bukan Bates Motel, yakan?

Oke sekian obrolan kurang penting -tapi perlu disampaikan demi kesehatan jasmani-ini dibuat. Adios.

Leave this creature alone

Kadang ada yang mengelompokkan saya ke golongan binatang seperti anjeng. Ada juga yang mengelompokkan saya ke golongan buah-buahan seperti jambu. Yang paling lucu ada menganggap saya tuhan, jadi kalo ketemu saya mereka bilang, “ya tuhan, kamu kemana aja sii??”

Ayayaya terserah monggo. Saya kadang menganggap saya cuma orang menyedihkan dan lone ranger yang bahkan nggak ada satu pun yang tahu apa yang sedang saya perangi dan usahakan. Gak perlu ekspos juga lah, ga penteeng… Lho, jangan salah saya ini introvert kelas gajah. Tapi hati nurani saya nabok saya barusan, dan bilang kalo saya cerewetnya minta ampun. Makanya, dengan menukil filosofi sebuah pintu sliding otomatis, saya jadi tau. Sebenernya dari jauh saya ini kelihatannya menutup, tapi coba deh jalan mendekat, saya juga otomatis terbuka sama kelen. Azeg.

may-2007-003

Ini kali keempat ada orang yang marah-marah ke saya karena saya ramah. Lho? Saya kasih tau metaforanya aja, pintu sliding otomatis itu kalau dari jauh ngeri emang. Berasa kayaknya nggak usah masuk sana, pintunya kekunci kayaknya soalnya nutup rapet. Nah dari situ orang udah sensi kali. Terus dia spekulatif. Ada yang nyoba masuk (na ini yang bener) dan menemukan kalau ternyata si pintu otomatis ngebuka, ya iya pintu mall lah kece baday! Tapi ada juga yang ngelemparin batu dari jauh. Ya ampun, situ lulusan SMK?

Sebagai sebuah daun pintu biasa, saya sih maunya jangan dirusak ya. Saya sih nggak masalah kalau nggak pernah dianggep ada (hiks hiks tapi jangan dong), tapi jangan dianiaya tolong.

Dan kali ini saya baru nyadar saya ngelompokin diri sendiri ke golongan benda mati; daun pintu sliding otomatis.

Intinya saya kalo gini terus menerus saya pengen jadi pintu brankas aja gimana? Yang kalian harus bener-bener input sandi dengan benar baru saya mau ngebuka. Gimana? Jahat emang, tapi demi kesehatan soul ini lho terus terang aja mz.

Leave me alone.

EMOSIONAL; perkawinan antara grape fruit dan apple.

Saya juga manusia biasa, seperti mukidi. Bukan seperti mbak Celsi islen atau Laudya Cintya Bella, bahkan Raisa. Saya juga makan nasi campur, kadang pecel pincuk sebelah McD. Saya juga terkadang pengen bunuh orang, tapi saya tahu itu yang berhak cuma Tuhan (dan mungkin pengadilan).

Dont-hug-me-im-scared-heart-750x398.png

Saya nggak sengaja bilang bajingan ke teman saya, perempuan. Mungkin dia langsung cukup tau sama saya. Dia sakit hati tapi hebatnya dia sabar dan nggak membalas umpatan. Saya dalam hati menyesal dan kesal. Menyesal karena saya sakiti hati orang yang tidak seharusnya, padahal tujuan saya ya nggak menyakiti si empunya hati. Kesal karena goblok sekali dia nggak balas mengumpat, kan saya jadi nggak ngerasa bersalah to? Selain itu saya jadi keliatan kek anak kecil yang suka meledak-ledak dan nggak karuan, meskipun memang itu kenyataannya.

Alamak.

Tolong jangan salahkan. Ini hanya upaya saya bagaimana mengawinkan antara otak dan hati. Ya grape fruit sama apel. Kalau saya mikir ketidak adilan, saya jadinya emosi. Coba jangan lihat dari bagaimana saya kemudian meledak bajingan itu, tapi lihat juga lah kenapa saya kok bisa meledak. Bom meledak itu ya nggak serta merta meledak, ada orang yang menyalakan sumbunya.

Adios.

Anak Sok Tau Ngomongin Film – PSYCHO (1960)

 

“Hello internet!  (matpat’s voice) welcome to aaa…..”

Oke saya nggak mencoba jadi mathew patrick Indonesia KW, tapi cuma pengen rada sok tau sama film. Beberapa waktu ini saya tersesat sama tontonan series AE yang judulnya Bates Motel. Dan, I found that series Bates Motel itu adalah yang namanya sebutannya spin-off dari film yang judulnya Psycho (1960) dan di-direct sama sang hyang Alfred Hitchcock. Dari judulnya aja udah paham kan itu tentang apa? Baiklah saya akan mencoba meng-feedback apa yang saya tonton. Jadi buat all of you-all of you-all of me john legend yang daripadanya memaktubkan spoiler adalah sebuah kriminalitas abad milenia, maka please go away, karena kalo pemirsa pemirsa yang belum nonton film ini kemudian ngeyel baca paragrap berikutnya, yasudah, artinya anda dengan sukarela terspoiler lho ya…

==========SPOILER ALERT==========

 

Continue reading

Aku sedang membaca buku “Kiat Sukses Jadi Populer di Kampus” ketika suara tiba-tiba terdengar dari luar pusat perbelanjaan dimana aku menghadiri book fair. Baiklah mungkin itu adalah bom. Suara tembakan juga berkali-kali meledak seolah-olah ingin merobek telingaku. Berhentilah aku sedang membaca! Aku sungguh tidak mood kali ini jika hari hari ini juga aku mati. Sunnguh tidak mood! Aku mungkin hampir saja akan jadi populer di kampus berkat buku ini. Persetan teroris. Kalau butuh aktualisasi diri di instagram saja, tidak usah sok-sokan main mercon jumbo di depan umum. Pasang saja fotomu dengan bayangan pantat atau jembut, otomatis aktual.

Aku pun kembali, kembali lagi. Sungguh suara ledakan itu merusak moodku. Aku memutuskan kembali pada masa awal masuk perkuliahan. Baiklah, disinilah aku dengan kebisingan bentakan senior dan suruhan push up. Lagi-lagi waktu yang tidak tepat, bikin aku tak lagi mood. Tapi setidaknya senior tak akan membunuhku seperti teroris. Kalaupun aku mati di tangan senior, aku populer. Aku cuma ingin populer dengan terhormat. Itu saja. Baiklah jika ini bisa kulewati aku akan berkenalan dengan sebanyak-banyaknya orang, dan karena aku tau siapa yangakan populer atau setidaknya siapa yang akan menjadi top number one dielu-elukan dikapus aku akan memacarinya. Bodo amat dengan cinta. Oh tidak, untuk perempuan populer aku akan membuat dia jadi temanku hahaha. Setidaknya mereka yang aku tahu akan jadi artis ibu kota akan aku jilat. Bukan bukan itu, aku sarkastik, maksudku aku akan jadi penjilat bukan jilat yang itu.

“Anjir. Ganteng banget nggak sih, omaigad omaigad.”

Aku menjawab “Oh iya ya ampun, bukan manusia dia mah malaikat keles” karena aku penjilat. Cih. Artis Korea lagi. Baiklah mereka memang chibi-chibi menggemaskan, tapi tidak perlu berteriak histeris karena si tampan itu juga tidak akan mendengar. Aku sampai heran, apa ini pekerjaan cewek-cewek populer?Tai ah. Berlagaklah seperti dewi, hey kalian. Kalian dipuja hampir seluruh kampus, dijadikan bahan fantasi oleh hampir semua lelaki fakir kuota untuk streaming video porno. Gunakanlah power itu untuk memperbudak kaum biasa. Mengapa jadi orang populer juga membosankan? Rasanya penuh kepalsuan, populer apanya? Hanya gara-gara mereka punya mobil ala-ala borju dan dandanan ala-ala 98.7k follower instagram mereka jadi populer? Baiklah ini kenapa sekarang aku tahu aku tidak pernah suka lagu pop.

Aku ingin loncat lagi, entah kembali atau pergi. Dunia paralel bikin perutku mules. Tapi sepertinya semua masa membosankan. Ada saran?