EMOSIONAL; perkawinan antara grape fruit dan apple.

Saya juga manusia biasa, seperti mukidi. Bukan seperti mbak Celsi islen atau Laudya Cintya Bella, bahkan Raisa. Saya juga makan nasi campur, kadang pecel pincuk sebelah McD. Saya juga terkadang pengen bunuh orang, tapi saya tahu itu yang berhak cuma Tuhan (dan mungkin pengadilan).

Dont-hug-me-im-scared-heart-750x398.png

Saya nggak sengaja bilang bajingan ke teman saya, perempuan. Mungkin dia langsung cukup tau sama saya. Dia sakit hati tapi hebatnya dia sabar dan nggak membalas umpatan. Saya dalam hati menyesal dan kesal. Menyesal karena saya sakiti hati orang yang tidak seharusnya, padahal tujuan saya ya nggak menyakiti si empunya hati. Kesal karena goblok sekali dia nggak balas mengumpat, kan saya jadi nggak ngerasa bersalah to? Selain itu saya jadi keliatan kek anak kecil yang suka meledak-ledak dan nggak karuan, meskipun memang itu kenyataannya.

Alamak.

Tolong jangan salahkan. Ini hanya upaya saya bagaimana mengawinkan antara otak dan hati. Ya grape fruit sama apel. Kalau saya mikir ketidak adilan, saya jadinya emosi. Coba jangan lihat dari bagaimana saya kemudian meledak bajingan itu, tapi lihat juga lah kenapa saya kok bisa meledak. Bom meledak itu ya nggak serta merta meledak, ada orang yang menyalakan sumbunya.

Adios.

Advertisements

Anak Sok Tau Ngomongin Film – PSYCHO (1960)

 

“Hello internet!  (matpat’s voice) welcome to aaa…..”

Oke saya nggak mencoba jadi mathew patrick Indonesia KW, tapi cuma pengen rada sok tau sama film. Beberapa waktu ini saya tersesat sama tontonan series AE yang judulnya Bates Motel. Dan, I found that series Bates Motel itu adalah yang namanya sebutannya spin-off dari film yang judulnya Psycho (1960) dan di-direct sama sang hyang Alfred Hitchcock. Dari judulnya aja udah paham kan itu tentang apa? Baiklah saya akan mencoba meng-feedback apa yang saya tonton. Jadi buat all of you-all of you-all of me john legend yang daripadanya memaktubkan spoiler adalah sebuah kriminalitas abad milenia, maka please go away, karena kalo pemirsa pemirsa yang belum nonton film ini kemudian ngeyel baca paragrap berikutnya, yasudah, artinya anda dengan sukarela terspoiler lho ya…

==========SPOILER ALERT==========

 

Continue reading

Aku sedang membaca buku “Kiat Sukses Jadi Populer di Kampus” ketika suara tiba-tiba terdengar dari luar pusat perbelanjaan dimana aku menghadiri book fair. Baiklah mungkin itu adalah bom. Suara tembakan juga berkali-kali meledak seolah-olah ingin merobek telingaku. Berhentilah aku sedang membaca! Aku sungguh tidak mood kali ini jika hari hari ini juga aku mati. Sunnguh tidak mood! Aku mungkin hampir saja akan jadi populer di kampus berkat buku ini. Persetan teroris. Kalau butuh aktualisasi diri di instagram saja, tidak usah sok-sokan main mercon jumbo di depan umum. Pasang saja fotomu dengan bayangan pantat atau jembut, otomatis aktual.

Aku pun kembali, kembali lagi. Sungguh suara ledakan itu merusak moodku. Aku memutuskan kembali pada masa awal masuk perkuliahan. Baiklah, disinilah aku dengan kebisingan bentakan senior dan suruhan push up. Lagi-lagi waktu yang tidak tepat, bikin aku tak lagi mood. Tapi setidaknya senior tak akan membunuhku seperti teroris. Kalaupun aku mati di tangan senior, aku populer. Aku cuma ingin populer dengan terhormat. Itu saja. Baiklah jika ini bisa kulewati aku akan berkenalan dengan sebanyak-banyaknya orang, dan karena aku tau siapa yangakan populer atau setidaknya siapa yang akan menjadi top number one dielu-elukan dikapus aku akan memacarinya. Bodo amat dengan cinta. Oh tidak, untuk perempuan populer aku akan membuat dia jadi temanku hahaha. Setidaknya mereka yang aku tahu akan jadi artis ibu kota akan aku jilat. Bukan bukan itu, aku sarkastik, maksudku aku akan jadi penjilat bukan jilat yang itu.

“Anjir. Ganteng banget nggak sih, omaigad omaigad.”

Aku menjawab “Oh iya ya ampun, bukan manusia dia mah malaikat keles” karena aku penjilat. Cih. Artis Korea lagi. Baiklah mereka memang chibi-chibi menggemaskan, tapi tidak perlu berteriak histeris karena si tampan itu juga tidak akan mendengar. Aku sampai heran, apa ini pekerjaan cewek-cewek populer?Tai ah. Berlagaklah seperti dewi, hey kalian. Kalian dipuja hampir seluruh kampus, dijadikan bahan fantasi oleh hampir semua lelaki fakir kuota untuk streaming video porno. Gunakanlah power itu untuk memperbudak kaum biasa. Mengapa jadi orang populer juga membosankan? Rasanya penuh kepalsuan, populer apanya? Hanya gara-gara mereka punya mobil ala-ala borju dan dandanan ala-ala 98.7k follower instagram mereka jadi populer? Baiklah ini kenapa sekarang aku tahu aku tidak pernah suka lagu pop.

Aku ingin loncat lagi, entah kembali atau pergi. Dunia paralel bikin perutku mules. Tapi sepertinya semua masa membosankan. Ada saran?

Welcome To the World!

3uCD4xxYBaiklah, kata orang setelah kita wisuda kita akan bertemu lansung dengan dunia yang sebenarnya. Untuk itu sebelum saya wisuda saya coba-coba mengintip seperti apa “dunia-yang-sebenarnya” itu. Dunia yang sedang kita bicarakan ini, nggak usah pakai klise, adalah dunia kerja. Dimana kita cari duit, dimana kita harus makan pakai duit sendiri, dimana kita putar otak biar dapat duit lagi, makan lagi, kerja lagi, dapat duit lagi, dihabiskan lagi. So here we go. Dengan penuh mikir-mikir dan spekulasi manusia nggak jelas tapi lumayan jenius kaya saya, I got that conclusion.

Sebenarnya nggak guna banget kalau kita kerja buat cari duit, toh duit itu akan kita habiskan lagi, lebih cepat daripada kita mencarinya. Trust me it always happens. Buat apa kita mencurahkan waktu-tenaga-pikiran untuk menuju tanggal muda, lalu rekening kita gemuk lagi, dan kemudian belum setengah bulan rekening kita udah kering lagi. We aren’t gain anything! Kita nggak dapet apa-apa dari itu. Kita cuma dapet capeknya kerja dan bangganya ngabisin uang sendiri, dan kebanggaan itu bakal kamu lupakan lagi setelah kamu nggak punya uang lagi. Setelah lupa gimana rasanya punya uang kamu akan cari uang lagi dan lagi dan dihabiskan lagi, sampai cari lagi. Gitu aja terus sampe Donald Trump goyang dumang ya!

Masyarakat pada umumnya sudah terjebak pada sebuah skenario invisible yang merujuk pada pola lahir-sekolah-kerja-punya anak-tua-mati. Kalau sudah begini, doa-doa panjang umur dan sukses selalu yang dipanjatkan orang-orang terdekat waktu kita ulang tahun, cuma jadi debu yang sempat didengar tapi tak sempat dikejar. (Sekedar info, pengertian panjang umur sebenarnya bukan berapa lama usia kita hidup, tapi seberapa lama kita bakal diingat meskipun kita udah mati. Boom! That’s called long live, bitches! Lalu kenapa kita tetap aja cari aman dengan pola skenario invisible yang bahkan sangat membosankan? Apa karena ada mindset dimana kita meyakini kalau folklore nggak pernah salah? Breakthru mabro. Sekali-kali think out of the box. Kita semua memang bakal menua, kita semua memang bakal mati. But are you sure will spend your life time with something usual, yang bahkan cucu kita mungkin bakal lupa seberapa keren simbah-simbah mereka?

Well, setelah berpikiran begini, saya pusing. Theres sooo many option. So lets break the ordinary!! Welcome to the world. Kalian sebenarnya sudah berada di dunia sejak lahir, so am I. Being different is so fucking cool.

God, im so idealist today.

)

Setan M(alas)

Holy holy wow buat kalian yang dianugerahi sedikit sekali rasa bosan dan sedikit sekali hasrat bersenang senang. Meskipun menurut sahaya otak kalian mungkin selebralnya ada yang kedaluwarsa, semacam kebal dengan kesenangan senang-senang. Sehingga di saat saat sekeripsi mahasiswa kalian bisa membuktikan kalau wisuda itu bukan mitos.

Impuls-catalogo-caballero-2015

Holy holy wow buat kalian yang bisa lurus dan kerjakan huruf demi huruf yang sama sekali tanpa seni dan hanya mengandung kandungan ilmiah kepura-puraan yang kata orang itu pengetahuan tapi bisa saja ilmuwan hanya hobi saja dengan hal abstrak yang diteorikan, seperti melody jazz yang tidak pernah dimengerti ritmenya tapi didoktrin jadi musik classy romantic. Kalau kalian sedang baca ini dan nggak mengeri ya itu kalian nggak pernah memahami lekuk-lekuk tubuh wanita itu seperti galaxy’s edge.

Holy holy wow buat kalian yang sudah sempro be a hero, bahkan kompre dan wisuda wae. Sedangkan sahaya masih cari recehan di jalanan, menunggu keajaiban malas pergi dan menghilang. Meninggalkan hasrat ngopi ngopi dont worry dan download download sampe kempot. Lalu sahaya cobabertanya sahaya kudu piye. Suposse to do apa. Dedari dulu otak cerdas kalah dengan kalian yang para holy holy wow ini tiap hari nongkrong di gudang buku angker di sebelah lapangan brawijaya. Lalu saya coba cari motivator tapi bukan kaya yang muncul di tv. Otak mungil sahaya mungkin cukup liar buat menyangkal semua kalimat super yang dia lontarkan. Kebal. Mungkin saking cerdasnya sahaya kelewat kebal.

Sampai callingan parents pun saya bisa memberikan reasonability yang omg holy fucking tuan crab. I need an impuls. Please be the one, anyone, anything. Feed me up. I dont wanna bayar kuliah
lagi.

Waktu lihat Jen (Jen 2)

anjing_peliharaan

Jen-ku riil. Dia sosok yang riil. Seperti Knight of Cydonia yang datang dengan kungfu ala-ala america dan tampan luar biasa seperti cok simbara. Jen bukan lagi bisa dijadikan kekasih, tapi juga ayah, kakak, dan surga duniawi. Kami bertemu dalam sebuah malam yang tak pernah murung dimusuhi edison, daripadanya terang mengenyah kegelapan. Malam yang sama seperti malam-malam pertama malam diciptakan bahkan malam sebelum adam dan hawa dipisahkan. (Tapi jangan pisahkan aku dan Jen, tolong ya!)

Malam demi malam datang seperti biasa seperti malam ketika nabi Adam pertama melihat kegelapan. Lalu beberapa malam tak terduga Jen tak datang lagi kerumahku dan tak menemuiku di warung angkringan Joyokusumo. Kupikir Jen sudah mati, Lalu aku berpikir mengapa aku menyadari ketidakhadirannya yang bahkan debu-debu jalanan pun enggan menempel padanya? Aku jatuh cinta. Titik tanpa koma.

Inilah kemudian yang muncul, bahwa apakah setiap orang yang aku cintai adalah Jen? Tidak, tidak. Jen yang asli hanya akan ketahuan ketika aku mati. Kalau dia mati dahulu dan aku disampingnya, artinya dia Jen. Kalau aku mati duluan dan dia disampingku, dia jelas jelas Jen. Kuberitahu lagi, Jen bukanlah sebuah nama, ia adalah sebuah nickname ala ala sebutan yang holy holy name.

Beberapa hari kemudian dia pulang dari yang kukira kematiannya, membawa wingko babat dan wajik klethik. Oh, dia dari Semarang? dan tak bilang-bilang. Dan kukira dia hilang. Tapi dengan itu aku sadar kalau aku sayang. Jadi setelah kukunyah wingko babat rasa durian, aku bertanya pada Jen. “Jen, aku rindu..”

Jen tersenyum. Aku bilang “Jangan senyum, aku diabetes”. Lalu Jen tertawa ngakak sampai ceiling di kamarnya hampir ngablak-ngablak bak dihantam badai pasir. Aku bilang “Jangan tertawa, aku mulai stroke”

Tiap malam setelah itu aku ajak Jen makan sate telur puyuh sambil menenggak STMJ di angkringan Joyokusumo. Dibawah cahaya remang-remang kami nggak pernah sempat berciuman. Karena Pakdhe Joyokusumo punya mata elang, nampaknya dia mantan anggota avengers hawkeyes. Aku dan Jen belum jadian. Sampai suatu malam jumat keliwon ketika dia mengajak beberapa teman nongkrong di angkringan, dia nampak ada intens conversation and flirting condition dengan Jin.

Aku sumpel kuping kanan kiri dengan headset lalu play “Pupus-by Dewa 19”. Kan, anjing!

***

tubi kontinyued

Insult Comedy? No No.

Kalau ada kata-kata yang boleh dihapus dari kehidupan, saya pilih hapus kata “insult”. Nggak ada bagus-bagusnya dari ngejek seseorang. Parahnya lagi, ngetawain hal itu.

insult-blog-comments

Seringkali digelitik sama acara-acara komedi di TV ditambah pengalaman sendiri, saya rada risih. Budaya kita seolah dibentuk buat saling menghakimi salah dan benar, baik dan nggak baik, bagus dan nggak bagus. Padahal, kalau kita mau lihat dari berbagai sudut pandang, semua hal itu relatif. Apa salahnya kalau Rina Nose memang berhidung pesek? Itu desain Tuhan saja. Yang jadi masalah kalau kita menerapkan ejekan buat komedian di TV sama orang-orang di sekitar kita, ya kacau. Apalagi kalau itu sudah jadi trend, membudaya, mengakar, mendarah-daging, ya bahaya.

Insult Comedy merupakan salah satu genre komedi yang menggunakan hinaan, ejekan atau kata-kata menyinggung orang lain. Seringnya si komedian menyinggung fisik lawan mainnya atau bahkan penonton, Seperti, pendek, gemuk, gigi tonggos,rambut kribo, hidung pesek, dll.  Menurut teorinya sih, insult comedy ini boleh dipraktekan kalau si performer komedian sudah menjalain hubungan yang sangat dekat dengan penonton. Tapi, somehow secara pribadi, saya sangat nggak setuju dengan lawakan macam begitu. Apalagi, komedi macam ini seringkali disebut “festive abuse”, hih…ngeri amat.

Manusia tidak memahat fisiknya sendiri, pun tidak bisa memilih seperti apa bentuk fisik yang diinginkan. Kita hanya menerima itu seperti nasib. Kalau semua orang bisa memilih, tidak ada yang ingin dilahirkan berbeda dengan lainnya. Cantik dan tidak cantik, tampan dan tidak tampan hanyalah sebuah definisi semu yang selama ini tidak pernah ada di kepala kita. Konstruksi media berperan banyak dalam hal itu. Tidak ada patokan dan undang-undang yang bilang kalau cantik itu adalah wanita dengan kulit putih dan eambut panjang, tubuh langsing dan kaki jenjang, cuma iklan yang bilang begitu. Tujuannya ya lagi-lagi buat duit.

Jadi kenapa kita kemudian senang dan bahagia melihat orang lain tidak sama dengan kita. Sampai dijadikan guyonan atau lelucon. Misalnya ketika di sekolah ada seseorang yang sangat gendut banyak yang memanggilnya gajah, badak, kuda nil. Kalau ada yang kurus kemudian dipanggil lidi, papan penggilesan, cungkring, dll. Kita selalu berniat bercanda, tapi si orang yang diejek kemudian akan merasa ada yang salah dalam dirinya. Dia merasa berbeda. Setiap hari, ejekan ini selalu diulangi sampai nama panggilan si gendut dan si cungkring menghilangkan nama panggilan asli dari orang tuanya. Akhirnya ini menjadi bullying yang membudaya di setiap generasi. Korban bully bisa saja mengalami banyak gangguan psikologi yang berakibat menurunnya kepercayaan diri. Kalau korban bully ini sudah tidak percaya pada dirinya sendiri, dia akan sulit bersosialisasi, menganggap dirinya tidak berguna dan dia akan mempertanyakan tentang dirinya sendiri. Konflik batin ini lebih sulit dihadapi lho  daripada konflik lainnya.

Selain ejekan dalam bentuk fisik, ejekan ngawur yang salah tempat juga kadang sering kita ucapkan. Seperti, idiot, imbisil, autis, dll. Hal ini selain mengarah ke insult comedy, secara tidak langsung juga kita merendahkan para penderita autis sungguhan dengan menggunakan derita mereka sebagai ejekan. Wow, rage.

Menurut saya sih menghina atau mengejek dari sisi mana pun memang rasanya nggak bener. meskipun tujuannya hanya untuk bercanda saja, itu bisa lebih menyakiti hati orang. Heran, kalau kita bisa menertawakan karya Tuhan, bagaimana kita menertawakan diri kita sendiri yang jauh lebih lelucon dari keberadaan Tuhan?

“Words are knife that often leave scars.” Brendon Urie

Makanya, kalau mau bercandaan yang bermanfaat aja. Ngetawain soal usilnya politikus kita boleh jadi sentilan yang bakalan membawa kondisi lebih baik. Nabi nggak pernah suka insult comedy 🙂

Cerita Semanggi

Pagi ini aku lelah. Lelah yang luar biasa. Ada sebuah mimpi dengan cerita tidak biasa yang menguras begitu banyak tenagaku. Aku mungkin mati jika melanjutkan tidur barang lima menit lagi. Tapi mimpi, tetaplah mimpi yang selalu akan dilupakan setelah hidup berjalan lagi.

il_fullxfull.186989262
Kau berubah, wajahmu sungguh berubah tak tampan lagi. Tapi aku tau sekali itu kau yang duduk di bawah pohon semanggi. Sendirian menunggu kawan kawan ketika hendak melayat ke rumah herman. Herman teman baikmu. Sejauh yang kutau kau dan herman seperti sepasang homo yang tak terpisahkan. Berjalan bersama dan bermain seperti anak muda di ambang batas tua. Ceria sekali. Kalian saling mengejek satu sama kain tentang wanita-wanita yang kalian sukai. Tentunya, aku tak pernah termasuk disana.
Kulihat lagi kau dari jauh, duduk dan layu. Aku menghampirimu seolah aku paling mengerti sandi sandi dari raut wajahmu. Aku menghela pundakmu dan mengatakan semua akan baik baik saja.
Kau diam.
Aku membawa semua temanku, teman wanita ku, yang sama sama mau menyampaikan belasungkawa atas kematian herman. Dan aku tau kau tak pernah berkeberatan dengan itu. Kau selalu tenang dan tersenyum di depan semua orang yang tak pernah kau kenal dalam hidupmu. Seperti ketika dulu aku belum mengenalmu dan kau menggodaku dengan kelakar ala lelaki gombal. Waktu itu kukira kau memang menggodaku, bukan, kau hanya meramahiku saja. Aku tau itu setelah beberapa bulan kemudian kau lupa padaku.

Semakin siang semakin sunyi di bawah pohon semanggi. Kita cuma ditemani angin dan daun jatuh. Sesekali panasnya matahri menjejal di antara rerimbunan daun. Kau lelaki sendiri diantara kami. Diam dan minta dimengerti. Seorang kawan wanitaku menyapamu dengan pelan, menanyakan apa yang terjadi. Aku kaget ketika yang terpantul dari wajahmu adalah raut gembira. Herman bukanlah masalah dari hilangnya tampanmu itu. Lalu apa?
“Kamu nggak merasa kepanasan disini?” seorang teman menyenggolku. Ia menggosokkan tangannya yang sedari tadi terpapar matahari. Kami duduk di pinggir timur bangku semanggi yang membuat kami ditodong matahari siang. Aku tak merasakannya karena sejak awal aku cuma melihatimu.
“Pindah yuk.” kutanggapi kalimat kawanku yang memang bukan ajakan untuk pindah, tetapi jelas itu maksudnya. Kami kemudian pindah tepat di sebelahmu.
Kawanku yang satu ini memang baik, dia sungguh tau aku menyukaimu, sehingga dia memberikan kesempatan buatku duduk di dekatmu. Aku bisa melihatimu lagi, dengan sangat jelas sekali.
Seseorang menghubungimu lewat ponsel di saku kananmu. Dengan wajah yang berubah jadi merah setelah melihat siapa yang menelponmu, kau menjawabnya dengan,”Kamu kesini aja sayang. Kalau nggak mau tunggu saya pulang satu jam lagi.” Dari pacarmu. Aku tak pernah bisa menebak apa rencanamu satu jam ke depan, menunggu daun semanggi berkelopak empat jatuh? Tapi aku dari dulu tau pacarmu kekanakan sekali dan memalukan. Tipe wanita posesif dan manja. Pencemburu luar biasa dan penakluk pria. Pacarmu biduan desa. Masih muda dan selalu ceria di depan kamera. Beda denganku yang suram seperti susana.

“Pulang aja…ditunggu begitu kok” suaraku bergetar ketika berucap. Jika seorang diantara kami cenayang, mungkin akan ada yang menyadari kalau aku menyimpan cemburu dibalik kata-kata itu. Kau hanya tersenyum dan bilang mau duduk disini satu jam lagi. Aku tak mau berharap kau tinggal karena ada aku. Tak mungkin. Karena berharap sama saja berbohong untuk masa yang akan datang.
Kita kemudian berbincang tentang kematian herman, entah kenapa aku merasa kematian herman memang sudah sangat diikhlaskan. Herman yang begitu ceria dan terbuka membuat semua orang yang ditinggalkannya percaya kalau dia mati bahagia. Termasuk kau dan aku. Lucu ketika kita menyadari bahwa kita sama-sama mengenal herman. Tapi kita tak pernah begitu saling mengenal. Lebih lucu ketika aku sadar bahwa aku menyukaimu secara rahasia tanpa sedikit pun syarat. Dengan sembrono menaruh hati tak peduli kau sudah dimiliki. Mungkin kau terlalu ideal dalam pikirku. Seperti cantiknya buah lemon yang tak pernah manis.

“Hei kau!” seorang wanita berambut panjang tanpa disangka datang seperti orang kesurupan. Memandangimu dengan mata melotot dan mencekikmu keras. Wanita itu seperti penyihir dalam dongeng cinderella. Dia kemudian berdiri tepat didepanmu sambil mengangkat kerah bajumu. Ketika wajahnya sedikit tenang, wajahnya berubah lembut seperti putri salju. Kau diam dan tenang, tidak gemetaran.

“Kau bodoh sekali, kau membuat seseorang menunggumu!” kau diam sementara dia menghakimimu. Aku diam tapi mengerti kalau dia menyuruhmu kembali pada pacarmu. Kami semua disihir dan diam.

“Kau mempertahankan sebuah hubungan yang maju mundur sedari dulu. Kau tak akan pernah tau, nak, diluar sana ada yang lebih tulus kepadamu” kau masih diam dan dia masih menghakimimu. Tapi perkataannya kali ini tak ku pahami.

“Kau seharusnya meninggalkannya sejak dulu. Kau membuat seseorang yang mencintaimu dalam diam, menunggumu untuk menyadarinya. Pergilah dan tinggalkan cinta pertamamu. Sadarlah!!” kau bingung dan wanita itu menamparmu tiga kali. Nafasmu seperti diburu, tapi air mukamu tenang. Aku tak tau apa yang terjadi. Aku mungkin sedikit congkak jika menganggap akulah yang paling tulus padamu. Tapi ini seperti mimpi.

Wanita itu hilang dan terbang di semak semanggi, kau terdiam dan tidur. Aku terbangun.

0305

Ajeng Rizka

Akar akar

Akar akar

Kita semua datang sendiri
Seperti bayi-bayi
Kita tidak pernah ditemani

Kemudian tuhan kasih kita sebentuk hati

Sampai sampai hati meraba sepi
Dan tamak tamak tubuh mulai cari cari

Adakah jika tuhan menyukai angka ganjil,
Akan ada seseorang yang tidak tergenapkan
Tuhan, jangan aku.

Semua manusia takut jadi sendiri
Tapi mereka biarkan kalau ada yang alami

Egois.

Tuhan, kalau ada warna hitam
Jangan biarkan itu warnaku.
Doa.

Ajeng Rizka

Pengakuan Terheboh Abad Ini

Kalau dibilang sebuah pengakuan, ini sebuah curhatan. Ya, silahkan berfilosofi.

Belakangan ini saya digelitik oleh perasaan yang menyudutkan saya untuk menilai orang menjadi dua kubu; baik dan tidak baik. Jadi latar belakang lainnya termasuk reliji dan keyajinan, diabaikan. Bukan diabaikan semacam tidak penting, tetapi saya tidak akan menggunakan agama saya sebagai tolok ukur menilai orang apakah dia baik atau tidak baik.

Just because you are a religious person, it doesnt mean you are a good person either.

Thats my note. Period.

Baiklah, karena daripadanya hal tersebut, saya banyak menyipitkan mata pada orang di sekitar saya. Kalau judge a book by its cover sudah mainstream, saya mulai judging dengan indikator lain.

Banyak sekali memang, orang religius yang bisa mengaplikasikan shalatnya dalam kehidupan (ngamalin perkara baik). Itu expert kalau saya bilang. Tapi…tidak sedikit yang dzikir siang malam tapi kelakuannya egois emosian dan tidak ikhlas hati serta pikirnya. (wuss bijak banget kaya ustadz)

Ada juga orang yang shalatnya atau ibadahnya biasaaaaa saja tapi kelakuannya menenangkan. Nah!

Lalu dimana pengakuannya.?

Oke jujur saja, saya bukan sedewa itu hanya menilai orang lain. Saya juga menilai diri sendiri dong!

Saya bukan orang baik. I mean it. Itulah kenapa hidup ini rasanya kemrungsung. Saya mungkin sejenis orang yang kalau dimintai tolong berkali-kali mempertimbangkan tapi ketika minta tolong maksa dan nggak liat sikon
Saya juga sejenis orang yang kalau diminta duitnya nggak mau tapi berharap banget dikasih duit sama orang.

But I really, im not a good person. Im just a super-duper ordinary plain dan nggak banget person.

Sadar banget saya kalau kadang orang disekitar saya rada keki, setengah jengkel atau males banget sama kelakuan saya yang sekarepe dhewe. Tapi saya susah banget ngerubahnya.
Nah tapi karena saya ini termasuk yang tidak baik, itu bukan berati saya ini orang relijius itu.
Aduh apalagi ini. Saya ini kadang merindukan Tuhan tapi nggak mau mendekatkan diri. Semacam orang LDR yang kangen pacar tapi nggak mau ndatengin jauh-jauh, atau setidaknya telfonin dan smsin, bbmin dan whats-appin (maaf buat kamu yang kesindir, aku sengaja kok) :p

Oke jadi gimana?
PR sajalah!
Selamat Bernafas Readers… :*