Hheu Hheu

Tentang cerpen Dik Lu.

Dik Lu menggambarkan kamu, kita, mereka, siapa sajalah yang mau konfirmasi kalau wataknya mirip. Dia pandai sekali berakting jadi pahlawan di keluarganya, berperan seolah berjasa sekali. Pemberani dan enerjik. Padahal mentalnya ya sama saja mental tempe. Bukan berarti hal seperti ini negatif, bukan? Munafik? Bisa jadi tapi belum tentu.

Selama rasa gengsi Dik Lu ini bisa memotivasi sedemikian sehingga rasa takut jadi tantangan, kesusahan berbuah ketabahan, dan kedondong berbuah kelengkeng, maka sejauh ini tak apa lah. Jika watak aku, kamu, dan *ciyeee aku kamu! ini pada dasarnya cemen dan allahumma tidak berguna? Gengsi kan bisa jadi booster.

Tapi kalau yang namanya gengsi ini sudah jadi tuhannya budak pemikiran yasudah wassalam. Lihat saja Dik Lu yang galau setengah hati jiwa membara karena gengsinya itu menggerogoti kemolekan tubuhnya (what??!!!). Tanggung sendirilah akibatnya.

Perbincangan mengenai watak manusia memang tidak pernah habis, mungkin sebaiknya saya kuliah psikologi. Tapi apa daya kalau psikis saya sendiri saja terlalu unique buat diungkap. Dengan kata lain psikis saya yang perlu dipelajari, maaf, diobati. Sehingga bedebah ini masuk jurusan lain yang tetap saja banyak yang menyangka saya tetap salah jurusan. Mungkin seharusnya jurusan Malang-Surabaya saja.

Kopi yang panas jadi dingin, cangkir yang penuh diseruput habis. Sekian.

Dik Lu; Mengantar Mas Ro

1296786366339638891_300x228-84882108183

 

                “Kau mau lewat mana, dik?” Lewat jalan mana saja semua sangat sepi, dingin, kabut, dan ini malam hari. Gelap tak ada lampu. Kakakku Mas Ro-begitu panggilan akrabnya karena dia anak kedua, malam ini harus pergi ke rumah mertuanya perihal ayah istrinya itu meninggal dunia. Sedangkan besok pagi, Mbak Ji, kakak tertuaku menggelar ijab kobul di rumah. Semua begitu sibuk mengurus keperluan Mbak Ji. Masakan, oleh-oleh kondangan, hingga dekorasi kamar pengantin serasa dikejar deadline. Sehingga akulah si anak perempuan yang mengaku paling berani ini harus mengantar Mas Ro pulang ke rumah mertuanya. Bukan apa-apa, tapi kami ini bukan dari keluarga yang bisa membeli banyak kendaraan roda dua, kendaraan ini besuknya untuk wara-wiri belanja sana sini persiapkan itu ini buat penyatuan dua hati yang tak tahan menunggu lagi. Mas Ro yang tadinya hendak berpartisipasi buat semua ini kemudian mau tak mau harus pergi.

                Ini epik. Ibu tidak bicara apapun mendengar kabar duka dari besannya itu. Pernikahan Mbak Ji sudah pernah ditunda dua kali. Pertama karena mempelai pria tak tau diri ternyata sudah beristri. Kedua karena Mbak Ji kecelakaan kereta api. Beruntung patah kaki dan lebam sana sini bisa diatasi meskipun dalam waktu berbulan-bulan. Tibalah hari ini, pernikahan tidak boleh ditunda lagi. Akhirnya Mas Ro-lah yang harus berbagi, menyampaikan berita duka dan berat tak terperi dari kami yang tak kuasa berkunjung dan hanya bisa menangisi.

                “Saya mau lewat jalan dekat kali saja, Mas.”

                “Hati-hati, dik. Disana jarang sekali lampu, kuburan juga kanan kiri. Mas takut kamu kenal begal.”

                “Apalah. Aku kira Mas takut aku ketemu setan.”

                “Begal itu juga setan, dik.”

                Aku berpikir sejenak lagi, merinding memang. Rumah mertua Mas Ro ini memang di pemukiman ramai, tapi jalan menuju sini sungguh naik turun ngepot sana sini. Banyak jalan alternatif menuju dusun ini, tapi semua opsi rasanya tak ingin dilewati. Secara teknis ada tiga jalan besar yang bisa ku lewati. Pertama adalah jalan dekat kali. Jalan ini ramai setidaknya oleh gemuruh air yang mengalir di sepanjang sungai di sebelah kanan jalan. Pemukiman ada, tapi diseberang kali dan sungguh tak ada orang berani main-main di luar tengah malam begini. Pekuburan-pekuburan yang terkenal angker juga harus kulewati kalau memang lewat jalan ini.

                Jalan kedua adalah jalan yang dipastikan hanya terdengar bunyi jangkrik. Jalanan ini area pesantren yang semua penghuninya dilarang membawa kendaraan bermotor. Kegiatan disini pun sudah harus mati setelah jam 10 malam, tak terkecuali termasuk listrik dan suara berisik. Entah pesantren macam apa ini. Bagus, sekarang pukul 12 malam dan aku sungguh tak ingin pulang sendirian. Sedangkan jalan ketiga, rusak parah. Sebagian justru jalan berbatu yang tidak diaspal. Pemukiman ada, tapi sama sepinya dengan jalan lain, sama gelap dan sama kabutnya pula.

                Aku yang sungguh gengsi memberitahu Mas Ro sebenarnya aku takut tidak punya pilihan lain buat merengek dan beradegan manja, cuma bisa diam akhirnya. Aku benar-benar pulang setelahnya, lewat kali. Jalan ini yang paling mungkin dilewati orang meskipun kemungkinanya sangat kecil. Aku mulai berbelok di tanjakan dekat kali. Kulihat lampu berkedip-kedip. Ah! Ada pengendara motor di depanku rupanya. Syukurlah aku tak sendirian. Perasaan takut yang benar-benar memalukan ini kemudian terobati perihal kenampakan manusia lain yang juga bernafas di depanku. Aku mencoba mengekor di belakang pengendara itu, namun tak berapa lama dia berbelok di jembatan kali dan memasuki gang-gang kecil. Sial! Ini masih seperlima perjalanan yang kutempuh. Aku tertegun namun motorku tetap kujalankan.

                Pelan dan perlahan, tanganku mulai sangat ragu menarik gas. Ah, Lu! Katanya kau berani. Ayolah beranikan diri, kau pengecut sekali. Mental tempe! Aku bergumam sendiri. Tapi tak mempan. Entah mengapa aku kemudian mendengar suara gelak tawa. Tawa itu bernada ejekan yang roman-romannya dilakuakn seorang-bapak-bapak. Makin lama tawa itu seperti dekat, tetapi mana sosoknya? Aku tak lihat apapun. Aku membelokkan motorku berbalik arah. Aku takut! Aku takut! Ya, aku takut! Gengsiku yang berlebihan ini dikalahkan oleh rasa takut yang kecut. Motor kukendarai kembali kerumah mertua Mas Ro. Aku tak peduli Mbak Ji lagi. Biarlah ibu mencari pinjaman motor dari tetangga-tetangga. Mbak Ji juga tak akan merasa kehilangan satu tenaga cuma buat memasak hidangan di resepsinya. Aku akan pulang besok pagi saja. Pagi setelah jalanan ramai.

 

Juli 2014

Tembang Kinanthi

Tembang Kinanthi buat perempuan

Beri tanda kalau aku kelewatan

Aku cuma mau makan ayam turki di atas nampan

Aku bosan prasmanan

 

Bisakah daun-daun sulur kujual

Aku butuh uang semilyar

Melarat perutku jadi binal

Minta dikenyangkan sampai mual

 

Tuan-tuan presiden dan tuan-tuan polisi

Sudikah menolong dengan kasih nasi?

Hamba ini manusia dengan bau telur basi

Amis anyir lalat menghiasi

 

Kata orang hidup berputar seperti roda

Kapan ya

Giliran di atas dan bergelimang bahagia?

Bohong, terlalu utopia

Prabowo Hatta Jokowi jeka

Tetap lapar perut sahaya

 

Kampanye hitam dan dosa gendam

Aku sudah makan trancam

Bisalah bikin perut tentram

Orang miskin tak jadi berakhir di makam

 

                                                                                                02 Juli 2014

Kamu? Tulisanmu?

Lalala tulisanmu kemana? Hilang sudah!

 

Aduh mama banyak sekali orang yang tanya jadi pusing jawabnya. Saya bukan penulis. titik. Setidaknya belum. Jujur saja waktu baca lagi tulisan-tulisan saya yang katanya karya sastra itu saya tidak menemukannya punya nyawa. apa karena saya melihat nyawa lain di tulisan orang lain? ah kurang ajar si orang lain itu bikin saya minder setengah mampus. Jadi ingat dulu ada anak perempuan berambut pendek dan suka main basket. Berangkat sekolah pakai sepatu kets dan jam tangan hitam. Pulang sekolah jalan sendiri ke perpustakaan buat membaca puisi mbeling jeihan. anak itu bikin puisi judul pertamanya “Annus Mirabillis” dan puisi itu sukses abis. dibaca di depan kawan-kawan dan diberi tepuk tangan. Tapi puisi itu ditulisnya diatas kertas abu-abu bermotif vido dido dan disobeknya dari buku, dibuangnya sudah. Karena anak ini bodoh, dia tidak peduli apa itu kenangan, ya dia cuma malas simpan kertas sobekan. Anak ini sampai sekarang muncul di cermin setiap saya berkaca, tapi dalam bentuk yang berbeda. ya anak itu saya.

Dua kali juara tingkat propinsi tapi dipencundangi pemerintah sendiri pernah, mengajari kawan menulis puisi tapi kesempatan emas dicuri murid sendiri pernah, dibohongi buat nulis dan nulis lagi tapi ternyata diplagiasi, oh sering.

Jadi saya terdampar di sebuah pulau galau yang penghuninya hobi meracau. vini vidi vichi. Pembohong besar kamu Caesar. Saya cuma jadi tumpukan jerami yang menyembunyikan jarum. Habislah saya tanya Tuhan kenapa saya kehilangan diri saya sendiri. Tuhan benci mungkin saya kok tidak lekas belajar.

Saya pernah buat blog, ndak cuma sekali. Banyak kali. Tapi sudahlah hapus memorinya masa-masa tak terraba, lagian saya lupa passwordnya.

Terimakasih, sudah ya, titipkan salam saya buat Hok Gie.

Chaw!