BLADE RUNNER 2049 Review. Pictures yang Luar Biasa Nyeni Tapi Tolong Siapkan Sumbu Kesabaran yang Panjang!

Sebagai penonton biasa, awam akan pemikiran sains dan kerumitan konflik sekuel pertama Blade Runner (1982) kamu akan sedikit ‘kesulitan’ untuk memahami plot. Percayalah, jangan berharap menonton sci-fi a la Alient Covenant, meskipun sutradaranya sama, tapi kedua film ini beda banget!

bladerunner2049-poster.jpg

Hai guys, mari kita rehat sejenak dari hantu-hantuan dan film horor yang mengeroyok kita di bulan Oktober ini. Meskipun secara eksplisit Indonesia nggak ada tradisi perayaan Hallooween, tapi musim hujan dan musim putus cinta ini memang waktu yang tepat buat memacu jantung. Lupakan teror horor dan meme receh bertagar #ibusudahbisa dulu. Kita bahas yang agak berat dikit: Blade Runner 2049.

Kenapa saya kekeuh pengen nonton Blade Runner di hari pertama tayang?

Blade-Runner-2049-920x584.png

Pertama, saya penasaran dengan film sci-fi yang dibilang terbaik di masanya yaitu 80-an. Kedua saya tergiur dengan daftar cast yang main. Siapa sih yang nggak mau bayar mahal buat combo 3 aktor ternama; Harrison Ford, Ryan Gosling, dan Jared Letto. Tiga aktor jenius ini saya pikir nggak mungkin salah pilih film. Alasan ketiga adalah karena saya pengen nonton banget hari itu.

Pictures yang luar biasa. Saya akui, bisa saja film ini terpilih sebagai Best Pictures di OSCAR mendatang

Blade-Runner-film-review.jpg

Kalau kamu nggak ngerti soal film ‘bagus’ mungkin kamu tergolong orang yang suka mantengin ajang penghargaan bergengsi film seperi OSCAR, BFI, atau Cannes. Ya, I try to being sarcastic guys!

Banyak shot yang diambil benar-benar sempurna dan luar biasa, detail yang ada di frame juga mantap jiwa deh. Saya paling terpana dengan scene ketika Ryan Gosling mencoba menemui Harrison Ford di sebuah kita yang mungkin dulunya adalah Las Vegas. Meskipun sangat lambat dan mengalir layaknya cairan plasma, tapi percayalah warna orange bersemu merah di layar akan membuatmu deja vu dengan padang gurung di film Mad Max Furry Road. Tapiapalah saya, seorang penonton yang mencoba menilai sebuah nilai seni pada film. Ah, sudahlah…!

Deleviery plot yang super pelan, kamu harus siapkan sumbu kesabaran yang panjang sebelum menonton. Serius guys!

blade-runner-2049-image-ryan-gosling-sylvia-hoeks.jpg

Kalau kamu bukan fans militan Blade Runner seperti mas-mas di sebelah saya yang ketika itu datang sendirian dan standing applause sendirian di akhir film, percayalah ini bukanlah sebuah hiburan. Ibarat baca buku, film ini layaknya buku teori komunikasi Little John. Padat teori, sarat makna, tapi kamu nggak akan betah membaca setiap katanya hingga halaman akhir. Kecuali kamu adalah editor buku Little John, atau sedang mempersiapkan sidang thesis.

Jangan berharap ada aksi heroik seperti di film star wars, perang-perangan dengan musuh monster atau apa pun itu. Sumpah, saya tadinya begitu dan berakhir jengkel di dalam bioskop. Saya bahkan lebih tertarik DM-an dengan teman saya yang resek daripada menunggu Joe menang bertarung melawan Luv.

Im not into sci-fi that much, are you? Jadi dengan segala kemajuan yang ‘tidak dijelaskan’ dalam film alias harus mikir sendiri, rasanya jadi PR

blade-runner-2049.jpg

Banyak banget teknologi yang mungkin gagal saya pahami dalam film. Mulai dari pacar virtualnya abang Gosling, hingga sabuk pengaman macam apa yang bisa mengikat Rick Deckard dan membuat dia kelihatan sangat lemah karena nggak bisa membebaskan diri sendiri layaknya lakon di film lain?

Sampai pada scene dimana ada Jared Letto, yang saya kira pertarungan akan pecah disitu. Nyatanya tidak. Jared bisa sangat menyebalkan sebagai orang kaya, dan penguasa Wallace, tapi hingga akhir tidak ada yang tahu bagaimana nasib si orang kejam ini. Oke baiklah, jangan samakan film ini dengan kelas kacangan.

Gimana pun juga, orang-orang lebih suka junkfood daripada salad. Seperti saya yang lebih suka film menghibur daripada film berat

Blade-Runner-2049-trailer-breakdown-6-700x293.jpg

Padahal, saya tergolong orang yang tontonannya agak ‘beda’ dengan kebanyakan teman. Mereka bilang akdang saya lebih suka yang berat-berat. Kalau memang iya, Blade Runner 2049 kan film berat, tapi saya kok nggak suka sih?

Mungkin saya salah berspekulasi, harusnya saya nggak berharap dapat hot dog ketika makan di warung vegetarian. Itulah yang terjadi dengan saya kemarin. Setelah melihat review dari banyak media kredibel lain, Rotten Tomatoes 89%, IMDb 8,7/10, bahkan Hindustan Times 5/5, sudah dipastikan lah ini film serius yang penggarapannya mahal dan sutradaranya jenius. Tapi jujur deh dari kacamata penonton awam yang cuma tahu penokohan penanjakan dan penyelesaian, bener-bener nggak enak ditonton.

Tenang ada bonus: Ryan Gosling yang nggak pernah gagal tampan

Gosling-1280x757.jpg

As always, manusia atraktif dan dunia perfilman ibarat kembar siam yang kalau terpaksa dipisahkan bisa bahaya. Untung ada abang Gosling yang bisa memanjakan mata selama 163 menit durasi film (buat film macam ini, waktu segini tuh lama, jangan samakan dengan film Avengers). Meskipun mata birunya yang lebih mirip lautan terdalam dan warna air di palung mariana kurag dieksplore, ya tapi sudah cukuplah, wong  saya sadar ini bukan romantic comedy!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s