Memuja Black Panther Tapi Bodo Amat Soal Afrika? (Review Black Panther)

Mengandung SPOILER 50%, air 35%, dan cinta 15% (abaykan, tapi tulisan ini memang ada spoilernya)

——sudah diperingatkan lho ya ada spoilernya, jangan tiba-tiba memenjarakan saya

cek aja
Adegan yang cukup fancy di Korea malam hari

Film superhero Marvel tayang lagi, yang jelas sudah dari lama. Jujur saya tuh mau nulis ini sudah lama, tapi banyak banget hal yang perlu perhatian khusus (misal, memperkirakan berapa lembaran uang yang disebar Bu Dendy). Jadinya draft ini teronggok manja di wordpress.

Hampir semua sepakat kalau penonton Black Panther terbagi menjadi 2. Yaitu yang suka banget dan yang nggak puas. Tentu ini terlepas dari konteks penyuka komik Marvel atau bukan.

19box2-master768
Si Tampan who doesnt age (aslinya doi dah berumur lho cyiin)

Mereka yang suka, beranggapan kalau unsur Afrika yang berusaha ditonjolkan di film ini benar-benar bisa jebol gawang, gol! Delivery Afrikaans yang alus banget, membawa metafora Afrika yang sebenarnya kaya tapi dianggap terlalu apa adanya. Tipe film sesedap ini belum pernah ada di Marvel. Seolah gak mau abai sama konflik politik di Afrika dan masalah rasialisme, Marvel juga ingin menggebet semua isu cantik yang potensial. Sayangnya terlau bernafsu justru bikin pendalaman isu nggak detail dan terkesan cuma dibeber di permukaannya aja.

1
Daniel Kaluuya dengan Lesotho Blanket

Selebihnya semua ciamik, ada badak, lesotho blanket, dan lain-lain yang Afrika banget itu adalah bumbu yang super sedap. Melebihi kesempurnaan rasa micin. Ngomong-ngomong soal detail budaya Afrika apa saja yang tampil di film Black Panther, kelen bisa baca tulisan saya di sini. Bakalan amaze dong kalau ternyata detail budaya yang muncul di black Panther itu referensi asli dari Afrika. Makanya cek, deh!

Sementara mereka yang nggak suka beranggapan kalau plot di Black Panther sangat mudah tertebak. Nggak ada tantangan atau ancaman yang bener-bener serius. Yah, waktu adegan Black Panther dijatuhin dari air terjun sama Killmonger dengan keadaan belum mati, semua sudah optimis kalau T’challa nggak mungkin mati lah. Masa’ superheronya mati, ya bubar deh franchise filmnya. Selebihnya layaknya urutan abjad A-B-C yang urutanya mudah dibaca, film Balck Panther nyatanya memang terdiri dari tiga babak simpel dari sebuah film.

18954832_10155321947516774_2641883955237612047_o
Tradisi Lip Plates asli Afrika, aslinya bisa lebih besar tuh piringan

Sebenarnya mereka yang agak nggak suka adalah kaum yang fokus pada plot cerita, bukan Afrika. Tentu sebaliknya mereka yang suka juga karena begitu terpana dengan Afrika. Sebenarnya ini bisa dijembatani dengan penyusunan plot yang lebih menarik, pembangunan karakter T’calla yang lebih oke (jujur Killmonger jadi tampak lebih menawan memang) dan cobalah lebih peduli dengan budaya!

Soal plot, saya rasa MCU memilih plot sesimpel itu demi main aman. Hey, mereka sudah melakukan best effort yang luar biasa di bagian referensi Afrika dan membungkus isu rasial dan politik pake kresek McD (biar laku dan lebih mudah diterima). Bayangkan saja jika isu rasial dan politik serta ke-Afrika-afrikaan ini muncul dengan kresek Gramedia (yang lebih serius dan terkesan jenius-soalnya belanja buku), ya pasti ‘harganya’ jauh lebih mahal. Bagus dan ciamik, tapi nggak secara luas bisa ‘dikunyah’ sama kaum malas baca. Contoh film begini adalah 12 Years A Slave yang juga dibintangi Lupita Nyong’O. Berapa juta anak muda yang kemudian paham soal Afrika, paham isu rasial dan politik di film ini. Mereka taunya film ini film bagus yang banyak masuk nominasi Oscar, udah gitu aja. Apalagi, anak muda Indonesia.

mbaku-challenge-black-panther-2-1088102
M’Baku yang lawak banget

Nah lewat film Black Panther, kekayaan Afrika mulai terkuak dan menyadarkan banyak orang kalau Afrika itu asik. Bukan hanya hamparan padang gersang yang banyak ditinggali singa dan antelop. Atau dataran dengan suku-suku primitif yang selalu kekurangn air. Nggak selamanya gitu lho. Kamu bisa lihat bukti kalau Afrika itu seru di artikel saya yang ini.

Jujur, gara-gara Black Panther saya jadi ingin liburan ke Cape Town. Lalu lima menit kemudian merenung karena melihat tiket pesawat kesana sama aja kayak pergi umroh.

WastefulImpishAyeaye-size_restricted
Ya begimane bang, biayain aku dong

Kesimpulannya dari installment pertama Black Panther, saya sih nunggu banget aksi dia berikutnya, baik di Avenger Infinity War nanti atau di sekuelnya (semoga pas nonton sekuelnya saya udah ketemu jodoh). Saya nggak terlalu terganggu dengan konflik film pertama yang katanya terlalu sederhana, no. Film adalah tentang penyampaian pesan, dan core message Black Panther adalah Afrika. Case closed.

Adios amigos.
Tulisan ini diselesaikan setelah teronggok 2 minggu di draft.

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s