Jen

Aku rasanya pengen mati, Jen. Kadang punya banyak hutang mendekatkan kita ke kuburan. Aku tidak lagi bisa berbuat. Tidak berbuat apa-apa juga sebenarnya bikin aku mati pikir. Itu lebih ngeri dari kedengarannya, serius. Jen, kalau kamu datang nanti aku kepingin kamu peluk aku seperti abang-abang di film distopia itu ya. Kelihatannya keren. Entahlah Jen, kamu tanya aku sudah gila? Jawabannya jelas “dari dulu”.

1111111111111111111111

Jen, aku selalu yakin kok kamu ini ri-il. Kamu diciptakan Tuhan buat aku yang kacau ini. Maafin aku ya Jen, kalau jodohmu ini orang yang jauh dari dambamu tentang wanita seksi yang pandai ngurus anak dan bikin tenang pikiran. Aku malah cerewet, sok tau, dan ndak bisa apa-apa. Satu lagi, aku juga pendek dan gembul. (Maaf itu harusnya dua.)

Jen aku orang yang punya banyak hutang, tapi aku selalu berharap Jen-ku bisa membayar semuanya. Termasuk hutang budi ke orang tua, Jen. Itu hutangku yang paling mahal. Walaupun sudah banting-banting tulang sampai pecah tapi semuanya tetap nggak bisa dibayar. Malah kemauanku tambah besar. Aku kepengen beli sepeda gunung, aku juga pengen sabak yang bisa buat main game. Aku pengen dipijat pakai jus jeruk dan strwberry, seperti yang biasanya silakukan orang-orang di TV.

Eh Jen, punggungku pegal, mataku kantuk. Sudah dulu ya. Kapan-kapan kutulis tentangmu lagi. Baibai.

Advertisements

Kamu? Tulisanmu?

Lalala tulisanmu kemana? Hilang sudah!

 

Aduh mama banyak sekali orang yang tanya jadi pusing jawabnya. Saya bukan penulis. titik. Setidaknya belum. Jujur saja waktu baca lagi tulisan-tulisan saya yang katanya karya sastra itu saya tidak menemukannya punya nyawa. apa karena saya melihat nyawa lain di tulisan orang lain? ah kurang ajar si orang lain itu bikin saya minder setengah mampus. Jadi ingat dulu ada anak perempuan berambut pendek dan suka main basket. Berangkat sekolah pakai sepatu kets dan jam tangan hitam. Pulang sekolah jalan sendiri ke perpustakaan buat membaca puisi mbeling jeihan. anak itu bikin puisi judul pertamanya “Annus Mirabillis” dan puisi itu sukses abis. dibaca di depan kawan-kawan dan diberi tepuk tangan. Tapi puisi itu ditulisnya diatas kertas abu-abu bermotif vido dido dan disobeknya dari buku, dibuangnya sudah. Karena anak ini bodoh, dia tidak peduli apa itu kenangan, ya dia cuma malas simpan kertas sobekan. Anak ini sampai sekarang muncul di cermin setiap saya berkaca, tapi dalam bentuk yang berbeda. ya anak itu saya.

Dua kali juara tingkat propinsi tapi dipencundangi pemerintah sendiri pernah, mengajari kawan menulis puisi tapi kesempatan emas dicuri murid sendiri pernah, dibohongi buat nulis dan nulis lagi tapi ternyata diplagiasi, oh sering.

Jadi saya terdampar di sebuah pulau galau yang penghuninya hobi meracau. vini vidi vichi. Pembohong besar kamu Caesar. Saya cuma jadi tumpukan jerami yang menyembunyikan jarum. Habislah saya tanya Tuhan kenapa saya kehilangan diri saya sendiri. Tuhan benci mungkin saya kok tidak lekas belajar.

Saya pernah buat blog, ndak cuma sekali. Banyak kali. Tapi sudahlah hapus memorinya masa-masa tak terraba, lagian saya lupa passwordnya.

Terimakasih, sudah ya, titipkan salam saya buat Hok Gie.

Chaw!