Cerita Semanggi

Pagi ini aku lelah. Lelah yang luar biasa. Ada sebuah mimpi dengan cerita tidak biasa yang menguras begitu banyak tenagaku. Aku mungkin mati jika melanjutkan tidur barang lima menit lagi. Tapi mimpi, tetaplah mimpi yang selalu akan dilupakan setelah hidup berjalan lagi.

il_fullxfull.186989262
Kau berubah, wajahmu sungguh berubah tak tampan lagi. Tapi aku tau sekali itu kau yang duduk di bawah pohon semanggi. Sendirian menunggu kawan kawan ketika hendak melayat ke rumah herman. Herman teman baikmu. Sejauh yang kutau kau dan herman seperti sepasang homo yang tak terpisahkan. Berjalan bersama dan bermain seperti anak muda di ambang batas tua. Ceria sekali. Kalian saling mengejek satu sama kain tentang wanita-wanita yang kalian sukai. Tentunya, aku tak pernah termasuk disana.
Kulihat lagi kau dari jauh, duduk dan layu. Aku menghampirimu seolah aku paling mengerti sandi sandi dari raut wajahmu. Aku menghela pundakmu dan mengatakan semua akan baik baik saja.
Kau diam.
Aku membawa semua temanku, teman wanita ku, yang sama sama mau menyampaikan belasungkawa atas kematian herman. Dan aku tau kau tak pernah berkeberatan dengan itu. Kau selalu tenang dan tersenyum di depan semua orang yang tak pernah kau kenal dalam hidupmu. Seperti ketika dulu aku belum mengenalmu dan kau menggodaku dengan kelakar ala lelaki gombal. Waktu itu kukira kau memang menggodaku, bukan, kau hanya meramahiku saja. Aku tau itu setelah beberapa bulan kemudian kau lupa padaku.

Semakin siang semakin sunyi di bawah pohon semanggi. Kita cuma ditemani angin dan daun jatuh. Sesekali panasnya matahri menjejal di antara rerimbunan daun. Kau lelaki sendiri diantara kami. Diam dan minta dimengerti. Seorang kawan wanitaku menyapamu dengan pelan, menanyakan apa yang terjadi. Aku kaget ketika yang terpantul dari wajahmu adalah raut gembira. Herman bukanlah masalah dari hilangnya tampanmu itu. Lalu apa?
“Kamu nggak merasa kepanasan disini?” seorang teman menyenggolku. Ia menggosokkan tangannya yang sedari tadi terpapar matahari. Kami duduk di pinggir timur bangku semanggi yang membuat kami ditodong matahari siang. Aku tak merasakannya karena sejak awal aku cuma melihatimu.
“Pindah yuk.” kutanggapi kalimat kawanku yang memang bukan ajakan untuk pindah, tetapi jelas itu maksudnya. Kami kemudian pindah tepat di sebelahmu.
Kawanku yang satu ini memang baik, dia sungguh tau aku menyukaimu, sehingga dia memberikan kesempatan buatku duduk di dekatmu. Aku bisa melihatimu lagi, dengan sangat jelas sekali.
Seseorang menghubungimu lewat ponsel di saku kananmu. Dengan wajah yang berubah jadi merah setelah melihat siapa yang menelponmu, kau menjawabnya dengan,”Kamu kesini aja sayang. Kalau nggak mau tunggu saya pulang satu jam lagi.” Dari pacarmu. Aku tak pernah bisa menebak apa rencanamu satu jam ke depan, menunggu daun semanggi berkelopak empat jatuh? Tapi aku dari dulu tau pacarmu kekanakan sekali dan memalukan. Tipe wanita posesif dan manja. Pencemburu luar biasa dan penakluk pria. Pacarmu biduan desa. Masih muda dan selalu ceria di depan kamera. Beda denganku yang suram seperti susana.

“Pulang aja…ditunggu begitu kok” suaraku bergetar ketika berucap. Jika seorang diantara kami cenayang, mungkin akan ada yang menyadari kalau aku menyimpan cemburu dibalik kata-kata itu. Kau hanya tersenyum dan bilang mau duduk disini satu jam lagi. Aku tak mau berharap kau tinggal karena ada aku. Tak mungkin. Karena berharap sama saja berbohong untuk masa yang akan datang.
Kita kemudian berbincang tentang kematian herman, entah kenapa aku merasa kematian herman memang sudah sangat diikhlaskan. Herman yang begitu ceria dan terbuka membuat semua orang yang ditinggalkannya percaya kalau dia mati bahagia. Termasuk kau dan aku. Lucu ketika kita menyadari bahwa kita sama-sama mengenal herman. Tapi kita tak pernah begitu saling mengenal. Lebih lucu ketika aku sadar bahwa aku menyukaimu secara rahasia tanpa sedikit pun syarat. Dengan sembrono menaruh hati tak peduli kau sudah dimiliki. Mungkin kau terlalu ideal dalam pikirku. Seperti cantiknya buah lemon yang tak pernah manis.

“Hei kau!” seorang wanita berambut panjang tanpa disangka datang seperti orang kesurupan. Memandangimu dengan mata melotot dan mencekikmu keras. Wanita itu seperti penyihir dalam dongeng cinderella. Dia kemudian berdiri tepat didepanmu sambil mengangkat kerah bajumu. Ketika wajahnya sedikit tenang, wajahnya berubah lembut seperti putri salju. Kau diam dan tenang, tidak gemetaran.

“Kau bodoh sekali, kau membuat seseorang menunggumu!” kau diam sementara dia menghakimimu. Aku diam tapi mengerti kalau dia menyuruhmu kembali pada pacarmu. Kami semua disihir dan diam.

“Kau mempertahankan sebuah hubungan yang maju mundur sedari dulu. Kau tak akan pernah tau, nak, diluar sana ada yang lebih tulus kepadamu” kau masih diam dan dia masih menghakimimu. Tapi perkataannya kali ini tak ku pahami.

“Kau seharusnya meninggalkannya sejak dulu. Kau membuat seseorang yang mencintaimu dalam diam, menunggumu untuk menyadarinya. Pergilah dan tinggalkan cinta pertamamu. Sadarlah!!” kau bingung dan wanita itu menamparmu tiga kali. Nafasmu seperti diburu, tapi air mukamu tenang. Aku tak tau apa yang terjadi. Aku mungkin sedikit congkak jika menganggap akulah yang paling tulus padamu. Tapi ini seperti mimpi.

Wanita itu hilang dan terbang di semak semanggi, kau terdiam dan tidur. Aku terbangun.

0305

Ajeng Rizka

Dik Lu; Mengantar Mas Ro

1296786366339638891_300x228-84882108183

 

                “Kau mau lewat mana, dik?” Lewat jalan mana saja semua sangat sepi, dingin, kabut, dan ini malam hari. Gelap tak ada lampu. Kakakku Mas Ro-begitu panggilan akrabnya karena dia anak kedua, malam ini harus pergi ke rumah mertuanya perihal ayah istrinya itu meninggal dunia. Sedangkan besok pagi, Mbak Ji, kakak tertuaku menggelar ijab kobul di rumah. Semua begitu sibuk mengurus keperluan Mbak Ji. Masakan, oleh-oleh kondangan, hingga dekorasi kamar pengantin serasa dikejar deadline. Sehingga akulah si anak perempuan yang mengaku paling berani ini harus mengantar Mas Ro pulang ke rumah mertuanya. Bukan apa-apa, tapi kami ini bukan dari keluarga yang bisa membeli banyak kendaraan roda dua, kendaraan ini besuknya untuk wara-wiri belanja sana sini persiapkan itu ini buat penyatuan dua hati yang tak tahan menunggu lagi. Mas Ro yang tadinya hendak berpartisipasi buat semua ini kemudian mau tak mau harus pergi.

                Ini epik. Ibu tidak bicara apapun mendengar kabar duka dari besannya itu. Pernikahan Mbak Ji sudah pernah ditunda dua kali. Pertama karena mempelai pria tak tau diri ternyata sudah beristri. Kedua karena Mbak Ji kecelakaan kereta api. Beruntung patah kaki dan lebam sana sini bisa diatasi meskipun dalam waktu berbulan-bulan. Tibalah hari ini, pernikahan tidak boleh ditunda lagi. Akhirnya Mas Ro-lah yang harus berbagi, menyampaikan berita duka dan berat tak terperi dari kami yang tak kuasa berkunjung dan hanya bisa menangisi.

                “Saya mau lewat jalan dekat kali saja, Mas.”

                “Hati-hati, dik. Disana jarang sekali lampu, kuburan juga kanan kiri. Mas takut kamu kenal begal.”

                “Apalah. Aku kira Mas takut aku ketemu setan.”

                “Begal itu juga setan, dik.”

                Aku berpikir sejenak lagi, merinding memang. Rumah mertua Mas Ro ini memang di pemukiman ramai, tapi jalan menuju sini sungguh naik turun ngepot sana sini. Banyak jalan alternatif menuju dusun ini, tapi semua opsi rasanya tak ingin dilewati. Secara teknis ada tiga jalan besar yang bisa ku lewati. Pertama adalah jalan dekat kali. Jalan ini ramai setidaknya oleh gemuruh air yang mengalir di sepanjang sungai di sebelah kanan jalan. Pemukiman ada, tapi diseberang kali dan sungguh tak ada orang berani main-main di luar tengah malam begini. Pekuburan-pekuburan yang terkenal angker juga harus kulewati kalau memang lewat jalan ini.

                Jalan kedua adalah jalan yang dipastikan hanya terdengar bunyi jangkrik. Jalanan ini area pesantren yang semua penghuninya dilarang membawa kendaraan bermotor. Kegiatan disini pun sudah harus mati setelah jam 10 malam, tak terkecuali termasuk listrik dan suara berisik. Entah pesantren macam apa ini. Bagus, sekarang pukul 12 malam dan aku sungguh tak ingin pulang sendirian. Sedangkan jalan ketiga, rusak parah. Sebagian justru jalan berbatu yang tidak diaspal. Pemukiman ada, tapi sama sepinya dengan jalan lain, sama gelap dan sama kabutnya pula.

                Aku yang sungguh gengsi memberitahu Mas Ro sebenarnya aku takut tidak punya pilihan lain buat merengek dan beradegan manja, cuma bisa diam akhirnya. Aku benar-benar pulang setelahnya, lewat kali. Jalan ini yang paling mungkin dilewati orang meskipun kemungkinanya sangat kecil. Aku mulai berbelok di tanjakan dekat kali. Kulihat lampu berkedip-kedip. Ah! Ada pengendara motor di depanku rupanya. Syukurlah aku tak sendirian. Perasaan takut yang benar-benar memalukan ini kemudian terobati perihal kenampakan manusia lain yang juga bernafas di depanku. Aku mencoba mengekor di belakang pengendara itu, namun tak berapa lama dia berbelok di jembatan kali dan memasuki gang-gang kecil. Sial! Ini masih seperlima perjalanan yang kutempuh. Aku tertegun namun motorku tetap kujalankan.

                Pelan dan perlahan, tanganku mulai sangat ragu menarik gas. Ah, Lu! Katanya kau berani. Ayolah beranikan diri, kau pengecut sekali. Mental tempe! Aku bergumam sendiri. Tapi tak mempan. Entah mengapa aku kemudian mendengar suara gelak tawa. Tawa itu bernada ejekan yang roman-romannya dilakuakn seorang-bapak-bapak. Makin lama tawa itu seperti dekat, tetapi mana sosoknya? Aku tak lihat apapun. Aku membelokkan motorku berbalik arah. Aku takut! Aku takut! Ya, aku takut! Gengsiku yang berlebihan ini dikalahkan oleh rasa takut yang kecut. Motor kukendarai kembali kerumah mertua Mas Ro. Aku tak peduli Mbak Ji lagi. Biarlah ibu mencari pinjaman motor dari tetangga-tetangga. Mbak Ji juga tak akan merasa kehilangan satu tenaga cuma buat memasak hidangan di resepsinya. Aku akan pulang besok pagi saja. Pagi setelah jalanan ramai.

 

Juli 2014

Lelaki Kopi

 

                Biru. Aku ingat bagaimana kau melempar senyum pada kawanmu yang menggodaku dengan kaku. Aku sungguh tak ingat siapa kawanmu, tapi aku ingat benar kemeja yang kenakan itu. Biru seperti warna laut yang dalam. Kau juga atertawa dan mengatakan padaku agar aku usah memedulikan ocehan kawanmu. Kemudian aku tertawa, mencoba seramah mungkin padamu.

                Waktu berlalu seperti cepatnya cahaya. Hingga ribuan potret diriku bersama kau yang Cuma tercipta di imajiku sudah berganti merah. Ya, kemeja biru itu kemana? Apakah warnanya pudar dibakar matahari? Mulai hari itu juga film-film fiksi yang kusutradarai setiap khayalan-sebelum-tidurku menampakkanmu dengan pakaian merah itu. Berapa potongkah pakaian berwarna merah yang kau punya? Apa seluruh sudut lemarimu menyimpan lipatan berwarna merah?

                “Kirim saja ke surelku.” Kau sungguh menjawab dengan singkat ketika kutanyai bagaimana aku melengkapai tugas-tugas memuakkan itu. Mulai saat itulah aku jatuh hati pada suara paraumu. Kukira imaji suara tidak dapat bertahan lama., tapi suaramu bahkan mengendap di entah dimana dalam kepalaku. Berani-beraninya kau menembus adegan di mimpiku yang jujur saja tak bisa kusengaja.

                Hai lelaki merah. Aneh sekali menamaimu dengan warna yang dibenci Nabi, padahal kau sangat mencintaiNya. Seorang kawanku menyuruhku menamaimu Lelaki Kopi. Sangat pahit memang mengagumimu, tetapi kau akan terasa sungguh manis pada massa yang tepat. Kau tak lain dari cafein, membuatku sulit terpejam. Memejam dari jauhnya jalan menuju pintu rumahmu, begitu pula menuju pintu manifestasi mimpi menjijikkanku terhadapmu.

                Lelaki kopi, kau sangat rumit seperti rumitnya memahami dirimu yang dalam secangkir kecil berharga fantastis. Kalau dipikir, tak bakalan aku sanggup membelimu. Kau kopi dengan segala rasa, segala raja. Mustahil wanita-wanita itu tak tertarik padamu. Seberapapun pahit, mereka tidak akan mengernyit. Kau kopi yang setiap pagi sungguh ingin kuteguk, buat mengawali semua hari-hariku yang busuk. Tapi aku tak punya uang, ah….tunggulah aku dapat undian jutaan sayang, diantara tujuhbelas hingga duapuluhtiga besok.

 

                                                                                                                                0109- 1435