Beginikah rasanya dibuang dan merasa nggak berguna?

Saya baru saja berjalan ke dapur untuk membuat secangkir teh madu ketika tepat di depan rumah saya terjadi kecelakaan. Ini bukan pertama kalinya. Tapi saya kaget kali ini yang jadi korban adalah guru ngaji saya semasa kecil yang kondisi kakinya (mohon maaf) tidak sempurna. Dia berbaring kesulitan bernafas, dan bersimbah darah.

———————–

Saya buru-buru meninggalkan teh dan madunya yang belum saya aduk ketika mendengar teriakan ibu saya tepat setelah bunyi benturan keras, saya paham betul itu adalah nada teriakan panik. Setelah saya lihat, ya, dia guru ngaji saya yang ketika itu berbaring dan nafasnya sudah terdengar seperti dengkuran, beberapa kali tetangga saya memberikan nafas buatan. Tapi dia nampak mau muntah. Sementara yang menabrak, terbaring juga diseberang jalan. Semua orang panik, apalagi, guru ngaji saya ini hendak berangkat mengajar di TPQ mushola belakang rumah saya. Pilu.

a83bc2fbae32bad0e2836ac887ecece4--will-eisner-most-beautiful-pictures
Credit to respective owner(s)

Belakangan diketahui si pelaku tabrakan tak membawa identitas apapun, pun ketika ditanya ia hanya diam. Seorang mas-mas yang ikut menolong bahkan bilang kalau mulutnya bau alkohol, jambu alas!

Di tengah kepanikan akhirnya tetangga saya membawa langsung si korban ke rumah sakit, sementara si pelaku tabrakan dipanggilkan polisi. Ayah saya yang belum pulang dari masjid (kejadian ini selepas maghrib) tidak bisa menolong, pun saya lebih tidak berani nyetir mobil di tengah keramaian yang maharaja seperti ini. Saya nggak tahu harus berbuat apa, terutama ketika guru ngaji saya itu sudah dibisiki kalimat-kalimat Allah, seolah….ya kalian tahu apa yang saya pikirkan. Tidak ada lima menit, jalanan depan rumah saya sudah dipenuhi polisi dan ambulan, persis seperti TKP kriminal.

Klise, rasanya terlalu tidak adil jika dia, guru ngaji saya harus sedemikian rupa (kondisinya masih belum bisa dipastikan), berniat mengajar ngaji anak-anak tapi jadi korban pelaku yang diduga teler. Dia berhak menanggung dosa sebesar itu, tapi guru ngaji saya tidak berhak menanggung akibat sebesar itu. Ya, rasanya tidak adil.

Seperti ketidakadilan yang baru-baru ini saya rasakan. Dunia memang kadang njomplang di satu sisinya. Saya akui, waktu adalah harta yang paling berharga buat saya, jika saya rela mendedikasikan waktu saya untuk seseorang, dua orang, sekolompok orang, siapapun, artinya saya menghargai dia lebih dari apa pun. Tapi nyatanya, harga saya ditawar terlalu murah. Terimakasih pun tidak ada, bahkan ‘perhatian’ sebagai bentuk lain trimakasih pun bukan tidak ada lagi, justru semakin sebaliknya yang saya terima.

Begini, saya kira ketika itu saya akan mendapatkan seorang teman. Ya, teman, apasih yang saya harapkan selain itu? Saya bahkan tidak bisa membayangkan sebuah masa depan. Saya kira dia baik. Ya, dengan sekali dua kali dia menolong saya, membantu kesulitan saya, saya kira dia memang sebaik itu. Tapi begitu saya merelakan waktu saya, nyatanya jauh dari itu balasnya. Saya mencoba tetap baik dan berharap dia memang teman saya, tapi yang terjadi ya selalu sebaliknya. Bahkan mungkin, di benaknya saya ini lebih hina dari sekadar temannya. Anjeng.

how-to-draw-a-dog-head-step-9_1_000000058085_5
Credit to respective owner(s)

Begini, saya memang nggak berharap sebuah ‘balas’ dari apa yang saya beri. Tapi, merasa tidak dihargai jauh lebih menyakitkan daripada itu. Ketika melihat sepertinya dia sudah menemukan ‘yang lain’ saya bahkan sakit. Entah ini menye-menye terbawa perasaan atau logika saya saja yang terlanjur berang. Abstrak, sumpah. Jadi selama ini waktu yang berharga itu hanya saya hamburkan pada sesuatu yang bahkan dengan mudahnya membuang saya?oh my… Mbok setidaknya berbaik hatilah sama saya, temani saya beli buku sekali-kali dan bersikaplah seperti awal kamu menemukan saya dulu, ramah dan baik. Tertawalah pada apa yang saya guraukan, bukan memandang dengan tatapan menjijikan. Nggak logis.

Begini, ya beginilah rasanya dibuang, akibatnya cukup fatal ternyata. Secara reflek perasaan saya langsung berpikiran skeptis (skeptis ala perasaan, bukan logika), “Apa saya memang setidak berguna itu? Plastik saja didaur ulang, lha saya dibuang? Mungkin saya setara kulit pisang. Tidak dibuang bikin limbah, dibuang sembarang bikin orang terpeleset kan?”. Self esteem saya drop! Jujur saya harus marah atau kecewa, karena semua ini kesalahan saya sendiri, salah saya sendiri tanpa pamrih memberikan waktu pada orang yang bahkan tidak tahu seberapa berharganya itu.

Memang tidak ada hubungannya kecelakaan barusan dengan perasaan nggak enak yang bikin hari-hari saya kelam. Hanya saja saya sadar jika ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang perlu diungkapkan-seperti ketidakadilan yang selama ini cuma dibungkam. Setidaknya harus saya sampaikan, walaupun hanya dengan tulisan yang mungkin tidak akan dibaca siapa-siapa, kecuali diri saya. Yah semua tahu, siapa juga yang mau membaca blog berisikan hal tidak jelas ini. Tulisan acak adul dari dari yang bukan sastrawan, bukan penulis, bukan seniman, bukan orang berilmu. Saya anjing.

Dan disini lagi akhirnya kau berhenti

Pada titik yang sama saat kau berdiri ketika itu

Tempat yang salah

Yang akan membakar air mata dan kemarahanmu, jadi abu

Pecahan kaca di trotoar dan kau tak pernah mau pakai sandal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s