Tentang manusia dan rasa takut kehilangan. Ini Ode, buatmu.

Bukan manusia, jika sekalipun ia tak pernah merasakan kehilangan. Bahkan pena yang ia pakai untuk menulis, jika jatuh pun akan ia cari–sebab ia kehilangan.
Saya kasih tahu, manusia itu sangat dekat dengan rasa memilki. Mereka saling berbagi afeksi, apapun yang rasanya menyenangkan, menenangkan, dan ingin pasti mereka berusaha miliki. Termasuk memiliki milik orang lain (eh!). Sebagai playgirl yang selalu gagal, saya tahu persis meskipun nggak suka-suka amat dengan seseorang rasanya saja sangat pengen dimiliki (dan memiliki lho ya). Ya jiwanya, ya raganya, ya duitnya, ya waktunya, ya hidupnya. Ini menunjukkan betapa serakahnya manusia jika ia terus menuruti nafsunya, menuruti apa yang dia ingin.
Rasa memiliki ini kemudian bikin manusia sulit kehilangan. Memiliki sesuatu begitu menyenangkan, memiliki sesuatu bikin kita punya kekuatan, hanya dengan memiliki saja kita bisa bahagia. Tetapi apa yang kita miliki kemudian akan hilang, kita pun kehilangan. Uang, jabatan, kekasih, sepatu mahal, gadget, nggak akan rela jika semua itu harus hilang. Ada rasa kehilangan yang akan muncul nantinya.
.
Jika kamu membaca ini (to whom it may concern) saya selalu merasa kehilangan kamu. Kamu dan semua yang waktu-waktumu yang pernah saya berusaha miliki. Meski nyata-nyata kita tidak ingin saling dimiliki satu sama lain. Saya tidak pernah bisa menghindar dari sebuah gagasan dari ketiadaanmu. Penciptaan kamu adalah anugerah, dan waktu-waktu singkat yang kita habiskan adalah hadiah. Ingat kan waktu kita saling memonopoli waktu satu sama lain? Menyelipkan kebahagiaan di tengah kesibukan, memaksakan kehangatan di setiap kesepian yang terus kita alami. Kita berdua tahu fananya hidup ini cuma kelakar yang akan kita lupakan jika kita berdua sudah di depan layar: bermain game, menonton film. Dan ada saatnya kebodohan ini memang diakhiri.

Kamu dan kamu dan kamu. Saya tidak bisa menyebutmu sebagai “kalian” dalam hidup saya. Kamu, karena waktu yang kita miliki masing-masing adalah untuk kamu masing-masing. Saya tidak pernah membagi, dan mensyaratkan kamu untuk berbagi. Kita saling memiliki waktu satu sama lain. Dan dalam kehilangan yang selalu saya alami, tidak ada yang akan bisa tergantikan. Dengan segala kurangmu yang kadang membuat saya sembilu, dan lebihmu yang buat saya gagu. Kamu memang istimewa—-tapi ingatlah saya bilang ini ke semua “kamu” dalam hidup saya. Tidak ada yang tidak istimewa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s