Sesuatu di seberang berbisik: kamu pengen nulis fiksi

clown-paintings-sucking-throat

Sesuatu yang ada di seberang hanya fiksi guys. Tapi kalau saya pengen nulis fiksi itu bukan fiksi. Loh? Ya pokoknya begitu

Setelah buku berisi puisi-puisi masa SD ditemukan diantara reruntuhan dan kemudian saya bakar, saya sadar banget mungkin sepuluh tahun dari sekarang blog ini akan saya musnahkan dengan alasan cringe.

Kadang punya pikiran ngawur sih, apakah kalau Soe Hok Gie masih hidup dia akan breidel semua penerbit yang menerbitkan diarynya? Kalau iya, berarti dia merasakan hal yang sama.

Hari ini saya dengerin lagunya Maliq n D’essential yang judulnya Pilihanku, memang bener sih ada berjuta rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Saya kayaknya mikir kejauhan kalau ini adalah soal pikiran-pikiran goblok yang kadang-kadang nampak jenius yang ada di kepala saya yang rasanya sulit buat sekedar dikatakan. Ibarat kentut, berharap kenceng sampe kecirit tapi yang keluar hanya rembesan angin 0,-sekian mph.

Kadang punya angan-angan nggak penting kalau apakah di akhirat nanti semua pemikiran kita bakal bisa dimuntahkan? Katanya nggak ada hal yang nggak mungkin kan? Bener aja sih kalau Tuhan bilang ilmu tuh luas banget, karena isi otak manusia bahkan lebih besar dari sekedar alam semesta. Isi otak manusia inilah yang bisa dicreate lagi jadi ilmu. Dan kalau semua pohon di dunia ini dijadikan pena, dan air laut adlah tintanya, tetep aja nggak bisa untuk mencurahkan semuanya.

Wow. Amazing. Tapi ini celotehan nggak penting. Adios.

Anyway, saya pengen nulis fiksi yang dark dark gitu lho, yang gelap, yang suram. Sabodoooo!