REALISM dan IDEALISM lewat BATMAN: The Killing Joke

Saya kali ini nggak akan ngomongin argumen filsafat, nggak juga membahas teori-teori fisika. Saya cuma mau surhat. Susu dan firtsa hat. Halah!

Orang-orang idealisme saya salut, mereka selalu mengkhawatirkan kita, para realism yang bodo Image result for the killing jokeamat. Jujur saya terharu sih mereka mau njelimet mikirin hal-hal yang bahkan buat orang realis itu akan berlalu ketika kita minum kopi. Jadi inget adegan di film animasi the best yang sokthe best, The Killing Joke. Film ini dibintangi oleh gambar-gambar coretan DC comics. Hahaha animasi, oke baiklah. The Killing Joke aslinya adalah sebuah novel eh atau comic tahun 1988 karangan Alan Moore dan diilustrasikan oleh Brian Bolland. Pada akhirnya ini di filmkan di tahun 2016 oleh honourable Sam Liu.

Film ini merepresentasikan seorang Joker yang berlatar belakang orang susah dan dihimpit masalah kanan kiri depan belakang. Dengan keterpaksaan Joker kemudian jadi boneka para penjahat yang bermaksud menghancurkan Batman. Joker dipaksa menjadi Red Hood, tokoh fiktif buatan para musuh Batman dan diciptakan untuk membuat Batman takut. Well, Batman nggak takut apapun guys, bahkan mungkin sama Tuhan (lol, jangan serius). Singkat ceritanya, dalang dibalik Red Hood tewas ditembak polisi dan Joker, cuma ketakutan dibalik topeng, melihat Batman dan grogi dan tremor kemudian jatuh keserimpet jubah merahnya dan nyemplung lah dia di cairan toxic yang akhirnya ngebuat dia gila. Setelah gila dia jadi kaya, anyway.

Jalan cerita dari film ini kemudian menggiring penonton menyaksikan kedua kubu; Joker dan Batman, Realism dan Idealism. Tim Idealism digawangi oleh Batman, Gordon, dan Cat Woman. Sedangkan tim realism? isininya Joker dan para pemain sirkus yang well saya nggak mau bilang buruk rupa, mereka cuma antik aja. Tujuan Joker itu bukan uang, bukan juga vengeance ke Batman, dia tahu persis dia jadi gila bukan karena salah Batman. Tujuan dia sangat ma’rifat guys. Dan dugaan saya sementara si Joker cuma pengen stand up comedy depan Batman, udah itu aja. And that’s how the movie ends.

Realism dalam The Killing Joke digambarkan sebagai sebuah kesalahan bagi para idealis, sebagai penyakit. Inget, film ini memilih view Batman, jadi menurut film semua penonton adalah idealism. Tapi kalau mau sedikittt aja merenung, ciaaa, Joker sama sekali nggak jahat, apa yang dilakukan dia itu wajar (kalaupun batasan wajar yang dimaksud adalah younglex dan awkarin). Banyak juga yang beranggapan kalau Joker sejatinya dalah super sanity, super waras, jadi sebenernya yang lain gila waktu kita merasa dia yang gila. What is normal anyway, duh.

Ending dari film ini sangat epic. Ketika Joker sudah terpojok oleh Batman, mereka side to side, saya pun waktu itu wondering, apa yang bakal dilakuin Batman ke Joker. Ternyata Batman, decided to give mercy on him. Batman ingin Joker buat memulai kehidupannya lagi, mulai dari awal. Batman juga janji untuk membantu Joker bangkit, Batman mengulurkan tangan, dan Joker cuma “Well…” lalu berdiri tanpa menyambut uluran tangan Batman. Idealisme mmenilai apapun yang sedang dia kerjakan adalah hal yang baik, idealisme mengulurkan tangan agar para realis mulai berpikir, nggak ngopi terus. Ketika Joker menolak tawaran Batman, saya tahu persis orang realis pun idealis. Mereka idealis bahwa mereka akan stay pada jalan realis mereka. Nah lo pusing pusing dah.

Joker pun akhirnya menceritakan sebuah cerita basi ke Batman, yang cukup menggambarkan keadaan mereka, dan ini dia anggap sebagai joke. Joker menceritakan ada dua orang gila yang berusaha kabur dari RSJ, ketika akhirnya mereka menemukan jalan keluar lewat atap, orang gila pertama melompat untuk menyeberangi celah antargedung dan mendarat di atap gedung lain. Orang gila kedua tidak punya keberanian melompta. Dia bingung dan terdiam. Orang gila kedua hampir menyerah sampai orang gila pertama berkata, “Lompatlah, aku punya sebuah senter, aku akan menerangi celah antar gedung ini sehingga ini akan menjadi jembatan yang kamu tapaki untuk menyeberang”. Orang gila pertama menjawab “Hey apa kau gila?Tentu saja aku tidak mau, aku tau kamu akan mematikan senternya ketika aku berjalan diatasnya.”

Nggak lucu sama sekali. Sumpah. Miris. Tapi Joker tertawa terbahak-bahak disusul Batman yang ketawanya kaya gemuruh baday. Mereka tertawa bersama di tengah hujan.

Baik, jadi ini namanya meta metafora, entah apa istilah dari double meta. Dua orang gila itu adalah realism dan idealism. Orang gila pertama itu adalah Batman, si idealism. Dia cerdas memang dan dialah orang yang mengambil tindakan berani untuk lompat gedung. Dia pun orang yang baik, karena dia peduli temannya, dia tidak serta merta meningglakan temannya yang belum berhasil lompat gedung. Tapi cara menolong yang dia tawarkan hanyalah ilusi, mustahil. Orang idealism bener-bener pengen nolong orang realism dan cara mereka memang nggak pernah tepat.

Orang gila kedua, si realis, si Joker. Dia sebenernya ingin melompat gedung dan terbebas dari kekangan Rumah Sakit Jiwa, tapi dia tidak berani mengambil resiko. Dia diam dan menunggu pertolongan entah dari orang lain atau dari dirinya sendiri yang mungkin suatu saat akan siap. Ketika dia ditawari pertolongan oleh orang gila pertama, dia menolak harga mati. Tapi alasan dia menolak out of context banget. Orang realis nggak pernah tau contextnya tapi pilihan dia benar. Shame. Ah dunia ini gila.

Baiklah jangan terlalu idealis, guys. Menanggung beban pikiran para realis itu useless, mereka bahkan nggak ingin kalian pikirkan. Dan jangan terlalu realis guys, take a risk some time untuk melihat apakah kamu akan jatuh jika melompat gedung (tentu saja nggak perlu bantuan jembatan senter). Idealis dan realis, adalah ide bagus untuk mencari tahu kalian lebih condong kemana, tapi nggak usah terlalu loyal sama patokan itu. Keadaan yang dibentuk Tuhan atas kita bukan sebuah angka yang bisa ditentukan sama bilangan biner satu dan nol, iya dan tidak, kunyah dulu problemnya baru putuskan bakal kamu telan atau muntahkan. Bisa aja yang kamu kunyah antara gorengan dan cabe jalapeno, kalo kepedesan ya cukup cabenya aja yang dimuntahin, oke?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s