Insult Comedy? No No.

Kalau ada kata-kata yang boleh dihapus dari kehidupan, saya pilih hapus kata “insult”. Nggak ada bagus-bagusnya dari ngejek seseorang. Parahnya lagi, ngetawain hal itu.

insult-blog-comments

Seringkali digelitik sama acara-acara komedi di TV ditambah pengalaman sendiri, saya rada risih. Budaya kita seolah dibentuk buat saling menghakimi salah dan benar, baik dan nggak baik, bagus dan nggak bagus. Padahal, kalau kita mau lihat dari berbagai sudut pandang, semua hal itu relatif. Apa salahnya kalau Rina Nose memang berhidung pesek? Itu desain Tuhan saja. Yang jadi masalah kalau kita menerapkan ejekan buat komedian di TV sama orang-orang di sekitar kita, ya kacau. Apalagi kalau itu sudah jadi trend, membudaya, mengakar, mendarah-daging, ya bahaya.

Insult Comedy merupakan salah satu genre komedi yang menggunakan hinaan, ejekan atau kata-kata menyinggung orang lain. Seringnya si komedian menyinggung fisik lawan mainnya atau bahkan penonton, Seperti, pendek, gemuk, gigi tonggos,rambut kribo, hidung pesek, dll.  Menurut teorinya sih, insult comedy ini boleh dipraktekan kalau si performer komedian sudah menjalain hubungan yang sangat dekat dengan penonton. Tapi, somehow secara pribadi, saya sangat nggak setuju dengan lawakan macam begitu. Apalagi, komedi macam ini seringkali disebut “festive abuse”, hih…ngeri amat.

Manusia tidak memahat fisiknya sendiri, pun tidak bisa memilih seperti apa bentuk fisik yang diinginkan. Kita hanya menerima itu seperti nasib. Kalau semua orang bisa memilih, tidak ada yang ingin dilahirkan berbeda dengan lainnya. Cantik dan tidak cantik, tampan dan tidak tampan hanyalah sebuah definisi semu yang selama ini tidak pernah ada di kepala kita. Konstruksi media berperan banyak dalam hal itu. Tidak ada patokan dan undang-undang yang bilang kalau cantik itu adalah wanita dengan kulit putih dan eambut panjang, tubuh langsing dan kaki jenjang, cuma iklan yang bilang begitu. Tujuannya ya lagi-lagi buat duit.

Jadi kenapa kita kemudian senang dan bahagia melihat orang lain tidak sama dengan kita. Sampai dijadikan guyonan atau lelucon. Misalnya ketika di sekolah ada seseorang yang sangat gendut banyak yang memanggilnya gajah, badak, kuda nil. Kalau ada yang kurus kemudian dipanggil lidi, papan penggilesan, cungkring, dll. Kita selalu berniat bercanda, tapi si orang yang diejek kemudian akan merasa ada yang salah dalam dirinya. Dia merasa berbeda. Setiap hari, ejekan ini selalu diulangi sampai nama panggilan si gendut dan si cungkring menghilangkan nama panggilan asli dari orang tuanya. Akhirnya ini menjadi bullying yang membudaya di setiap generasi. Korban bully bisa saja mengalami banyak gangguan psikologi yang berakibat menurunnya kepercayaan diri. Kalau korban bully ini sudah tidak percaya pada dirinya sendiri, dia akan sulit bersosialisasi, menganggap dirinya tidak berguna dan dia akan mempertanyakan tentang dirinya sendiri. Konflik batin ini lebih sulit dihadapi lho  daripada konflik lainnya.

Selain ejekan dalam bentuk fisik, ejekan ngawur yang salah tempat juga kadang sering kita ucapkan. Seperti, idiot, imbisil, autis, dll. Hal ini selain mengarah ke insult comedy, secara tidak langsung juga kita merendahkan para penderita autis sungguhan dengan menggunakan derita mereka sebagai ejekan. Wow, rage.

Menurut saya sih menghina atau mengejek dari sisi mana pun memang rasanya nggak bener. meskipun tujuannya hanya untuk bercanda saja, itu bisa lebih menyakiti hati orang. Heran, kalau kita bisa menertawakan karya Tuhan, bagaimana kita menertawakan diri kita sendiri yang jauh lebih lelucon dari keberadaan Tuhan?

“Words are knife that often leave scars.” Brendon Urie

Makanya, kalau mau bercandaan yang bermanfaat aja. Ngetawain soal usilnya politikus kita boleh jadi sentilan yang bakalan membawa kondisi lebih baik. Nabi nggak pernah suka insult comedy 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s