Jen

Aku rasanya pengen mati, Jen. Kadang punya banyak hutang mendekatkan kita ke kuburan. Aku tidak lagi bisa berbuat. Tidak berbuat apa-apa juga sebenarnya bikin aku mati pikir. Itu lebih ngeri dari kedengarannya, serius. Jen, kalau kamu datang nanti aku kepingin kamu peluk aku seperti abang-abang di film distopia itu ya. Kelihatannya keren. Entahlah Jen, kamu tanya aku sudah gila? Jawabannya jelas “dari dulu”.

1111111111111111111111

Jen, aku selalu yakin kok kamu ini ri-il. Kamu diciptakan Tuhan buat aku yang kacau ini. Maafin aku ya Jen, kalau jodohmu ini orang yang jauh dari dambamu tentang wanita seksi yang pandai ngurus anak dan bikin tenang pikiran. Aku malah cerewet, sok tau, dan ndak bisa apa-apa. Satu lagi, aku juga pendek dan gembul. (Maaf itu harusnya dua.)

Jen aku orang yang punya banyak hutang, tapi aku selalu berharap Jen-ku bisa membayar semuanya. Termasuk hutang budi ke orang tua, Jen. Itu hutangku yang paling mahal. Walaupun sudah banting-banting tulang sampai pecah tapi semuanya tetap nggak bisa dibayar. Malah kemauanku tambah besar. Aku kepengen beli sepeda gunung, aku juga pengen sabak yang bisa buat main game. Aku pengen dipijat pakai jus jeruk dan strwberry, seperti yang biasanya silakukan orang-orang di TV.

Eh Jen, punggungku pegal, mataku kantuk. Sudah dulu ya. Kapan-kapan kutulis tentangmu lagi. Baibai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s