Tentang “Annus Mirabilis”

rasi-bintang

Annus Mirabilis adalah istilah perancis, yang artinya kurang lebih merupakan masa dimana seseorang mencapai suatu pencapaian tertinggi dalam hidupnya. Lebih dalam lagi, annus mirabilis merupakan titik dimana seseorang bakal tahu apa tujuan dia dilahirkan. Semua manusia yang memiliki otak saya rasa akan terus mencari titik ini. Tidak tahu apa semua akan menemukannya atau tidak. Setidaknya setelah manusia mati, dia jadi tahu dimana annus mirabilis-nya semasa hidup. Bila hidup diartikan seperti relief bumi, maka puncak gunung tertinggi (mungkin everest) itulah annus mirabilisnya. Hanya saja sebagian orang mengetahui ia telah mendaki puncak tertinggi, dan sebagian lainnya tahu belakangan setelah mendaki semua gunung. Pilih yang mana?

Oke, in simple way, kita akan tahu kita berdiri di puncak yang tertinggi karena kita bisa melihat semua gunung yang lebih rendah dari atas sana. Seseorang dengan kemampuan merasa seperti inilah si jenius. Tapi dalam beberapa kasus memang banyak yang sudah merasa tertinggi padahal ia baru mendaki Semeru (just for example guys). Ini penyakit hati yang perlu dihindari. Afterwards, pada kenyataannya, tidak semua orang bisa mendaki gunung. Banyak juga yang justru masuk jurang, ada pula yang cuma bisa mendaki bukit tabi dan bermain dengan tingki-wingky (OMFGosh).

Saya, karena saya punya otak, saya selama ini berputar-putar mencari dimana annus mirabillis saya. Tentu pernah saya merasakan hidup yang lebih baik dari sekarang (dalam artian lebih sukses), but im definetely tidak mau annus mirabilis saya cuma berhenti disitu. Jadi dalam perjalanan ini saya sungguh mencari. Rasanya terlalu jujur untuk menceritakan semua secara mendetail bagaimana saya terdampar pada sebuah masa sulit yang sangat panjang. Jika kembali boleh mengibaratkan, anggap saja kehidupan orang yang sukses seharusnya seperi segitiga terbalik. Semakin tua maka semakin banyak yang ia punya. Sedangkan saya jauh dari itu, semakin sedikit yang saya punya dan yang saya bisa lakukan. Manusia memang tidak pernah puas, manusia juga selalu lupa cara bersyukur. Tapi inilah yang saya lihat akhir-akhir ini, saya terjebak di sebuah gurun pasir yang menyebabkan lari saya tak kencang lagi.

Sampai mati juga, kalau memang ditakdirkan tidak bisa naik ke “everest” dan lihat semua gunung yang lebih pendek, setidaknya saya akan tahu kalau saya sudah berusaha mendakinya walaupun mati kedinginan di tengah perjalanan, atau bahkan jatuh menggelinding sampai lereng. Wish me Luck!

Advertisements

Jen

Aku rasanya pengen mati, Jen. Kadang punya banyak hutang mendekatkan kita ke kuburan. Aku tidak lagi bisa berbuat. Tidak berbuat apa-apa juga sebenarnya bikin aku mati pikir. Itu lebih ngeri dari kedengarannya, serius. Jen, kalau kamu datang nanti aku kepingin kamu peluk aku seperti abang-abang di film distopia itu ya. Kelihatannya keren. Entahlah Jen, kamu tanya aku sudah gila? Jawabannya jelas “dari dulu”.

1111111111111111111111

Jen, aku selalu yakin kok kamu ini ri-il. Kamu diciptakan Tuhan buat aku yang kacau ini. Maafin aku ya Jen, kalau jodohmu ini orang yang jauh dari dambamu tentang wanita seksi yang pandai ngurus anak dan bikin tenang pikiran. Aku malah cerewet, sok tau, dan ndak bisa apa-apa. Satu lagi, aku juga pendek dan gembul. (Maaf itu harusnya dua.)

Jen aku orang yang punya banyak hutang, tapi aku selalu berharap Jen-ku bisa membayar semuanya. Termasuk hutang budi ke orang tua, Jen. Itu hutangku yang paling mahal. Walaupun sudah banting-banting tulang sampai pecah tapi semuanya tetap nggak bisa dibayar. Malah kemauanku tambah besar. Aku kepengen beli sepeda gunung, aku juga pengen sabak yang bisa buat main game. Aku pengen dipijat pakai jus jeruk dan strwberry, seperti yang biasanya silakukan orang-orang di TV.

Eh Jen, punggungku pegal, mataku kantuk. Sudah dulu ya. Kapan-kapan kutulis tentangmu lagi. Baibai.