Hheu Hheu

Tentang cerpen Dik Lu.

Dik Lu menggambarkan kamu, kita, mereka, siapa sajalah yang mau konfirmasi kalau wataknya mirip. Dia pandai sekali berakting jadi pahlawan di keluarganya, berperan seolah berjasa sekali. Pemberani dan enerjik. Padahal mentalnya ya sama saja mental tempe. Bukan berarti hal seperti ini negatif, bukan? Munafik? Bisa jadi tapi belum tentu.

Selama rasa gengsi Dik Lu ini bisa memotivasi sedemikian sehingga rasa takut jadi tantangan, kesusahan berbuah ketabahan, dan kedondong berbuah kelengkeng, maka sejauh ini tak apa lah. Jika watak aku, kamu, dan *ciyeee aku kamu! ini pada dasarnya cemen dan allahumma tidak berguna? Gengsi kan bisa jadi booster.

Tapi kalau yang namanya gengsi ini sudah jadi tuhannya budak pemikiran yasudah wassalam. Lihat saja Dik Lu yang galau setengah hati jiwa membara karena gengsinya itu menggerogoti kemolekan tubuhnya (what??!!!). Tanggung sendirilah akibatnya.

Perbincangan mengenai watak manusia memang tidak pernah habis, mungkin sebaiknya saya kuliah psikologi. Tapi apa daya kalau psikis saya sendiri saja terlalu unique buat diungkap. Dengan kata lain psikis saya yang perlu dipelajari, maaf, diobati. Sehingga bedebah ini masuk jurusan lain yang tetap saja banyak yang menyangka saya tetap salah jurusan. Mungkin seharusnya jurusan Malang-Surabaya saja.

Kopi yang panas jadi dingin, cangkir yang penuh diseruput habis. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s