Dik Lu; Mengantar Mas Ro

1296786366339638891_300x228-84882108183

 

                “Kau mau lewat mana, dik?” Lewat jalan mana saja semua sangat sepi, dingin, kabut, dan ini malam hari. Gelap tak ada lampu. Kakakku Mas Ro-begitu panggilan akrabnya karena dia anak kedua, malam ini harus pergi ke rumah mertuanya perihal ayah istrinya itu meninggal dunia. Sedangkan besok pagi, Mbak Ji, kakak tertuaku menggelar ijab kobul di rumah. Semua begitu sibuk mengurus keperluan Mbak Ji. Masakan, oleh-oleh kondangan, hingga dekorasi kamar pengantin serasa dikejar deadline. Sehingga akulah si anak perempuan yang mengaku paling berani ini harus mengantar Mas Ro pulang ke rumah mertuanya. Bukan apa-apa, tapi kami ini bukan dari keluarga yang bisa membeli banyak kendaraan roda dua, kendaraan ini besuknya untuk wara-wiri belanja sana sini persiapkan itu ini buat penyatuan dua hati yang tak tahan menunggu lagi. Mas Ro yang tadinya hendak berpartisipasi buat semua ini kemudian mau tak mau harus pergi.

                Ini epik. Ibu tidak bicara apapun mendengar kabar duka dari besannya itu. Pernikahan Mbak Ji sudah pernah ditunda dua kali. Pertama karena mempelai pria tak tau diri ternyata sudah beristri. Kedua karena Mbak Ji kecelakaan kereta api. Beruntung patah kaki dan lebam sana sini bisa diatasi meskipun dalam waktu berbulan-bulan. Tibalah hari ini, pernikahan tidak boleh ditunda lagi. Akhirnya Mas Ro-lah yang harus berbagi, menyampaikan berita duka dan berat tak terperi dari kami yang tak kuasa berkunjung dan hanya bisa menangisi.

                “Saya mau lewat jalan dekat kali saja, Mas.”

                “Hati-hati, dik. Disana jarang sekali lampu, kuburan juga kanan kiri. Mas takut kamu kenal begal.”

                “Apalah. Aku kira Mas takut aku ketemu setan.”

                “Begal itu juga setan, dik.”

                Aku berpikir sejenak lagi, merinding memang. Rumah mertua Mas Ro ini memang di pemukiman ramai, tapi jalan menuju sini sungguh naik turun ngepot sana sini. Banyak jalan alternatif menuju dusun ini, tapi semua opsi rasanya tak ingin dilewati. Secara teknis ada tiga jalan besar yang bisa ku lewati. Pertama adalah jalan dekat kali. Jalan ini ramai setidaknya oleh gemuruh air yang mengalir di sepanjang sungai di sebelah kanan jalan. Pemukiman ada, tapi diseberang kali dan sungguh tak ada orang berani main-main di luar tengah malam begini. Pekuburan-pekuburan yang terkenal angker juga harus kulewati kalau memang lewat jalan ini.

                Jalan kedua adalah jalan yang dipastikan hanya terdengar bunyi jangkrik. Jalanan ini area pesantren yang semua penghuninya dilarang membawa kendaraan bermotor. Kegiatan disini pun sudah harus mati setelah jam 10 malam, tak terkecuali termasuk listrik dan suara berisik. Entah pesantren macam apa ini. Bagus, sekarang pukul 12 malam dan aku sungguh tak ingin pulang sendirian. Sedangkan jalan ketiga, rusak parah. Sebagian justru jalan berbatu yang tidak diaspal. Pemukiman ada, tapi sama sepinya dengan jalan lain, sama gelap dan sama kabutnya pula.

                Aku yang sungguh gengsi memberitahu Mas Ro sebenarnya aku takut tidak punya pilihan lain buat merengek dan beradegan manja, cuma bisa diam akhirnya. Aku benar-benar pulang setelahnya, lewat kali. Jalan ini yang paling mungkin dilewati orang meskipun kemungkinanya sangat kecil. Aku mulai berbelok di tanjakan dekat kali. Kulihat lampu berkedip-kedip. Ah! Ada pengendara motor di depanku rupanya. Syukurlah aku tak sendirian. Perasaan takut yang benar-benar memalukan ini kemudian terobati perihal kenampakan manusia lain yang juga bernafas di depanku. Aku mencoba mengekor di belakang pengendara itu, namun tak berapa lama dia berbelok di jembatan kali dan memasuki gang-gang kecil. Sial! Ini masih seperlima perjalanan yang kutempuh. Aku tertegun namun motorku tetap kujalankan.

                Pelan dan perlahan, tanganku mulai sangat ragu menarik gas. Ah, Lu! Katanya kau berani. Ayolah beranikan diri, kau pengecut sekali. Mental tempe! Aku bergumam sendiri. Tapi tak mempan. Entah mengapa aku kemudian mendengar suara gelak tawa. Tawa itu bernada ejekan yang roman-romannya dilakuakn seorang-bapak-bapak. Makin lama tawa itu seperti dekat, tetapi mana sosoknya? Aku tak lihat apapun. Aku membelokkan motorku berbalik arah. Aku takut! Aku takut! Ya, aku takut! Gengsiku yang berlebihan ini dikalahkan oleh rasa takut yang kecut. Motor kukendarai kembali kerumah mertua Mas Ro. Aku tak peduli Mbak Ji lagi. Biarlah ibu mencari pinjaman motor dari tetangga-tetangga. Mbak Ji juga tak akan merasa kehilangan satu tenaga cuma buat memasak hidangan di resepsinya. Aku akan pulang besok pagi saja. Pagi setelah jalanan ramai.

 

Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s