Lelaki Kopi

 

                Biru. Aku ingat bagaimana kau melempar senyum pada kawanmu yang menggodaku dengan kaku. Aku sungguh tak ingat siapa kawanmu, tapi aku ingat benar kemeja yang kenakan itu. Biru seperti warna laut yang dalam. Kau juga atertawa dan mengatakan padaku agar aku usah memedulikan ocehan kawanmu. Kemudian aku tertawa, mencoba seramah mungkin padamu.

                Waktu berlalu seperti cepatnya cahaya. Hingga ribuan potret diriku bersama kau yang Cuma tercipta di imajiku sudah berganti merah. Ya, kemeja biru itu kemana? Apakah warnanya pudar dibakar matahari? Mulai hari itu juga film-film fiksi yang kusutradarai setiap khayalan-sebelum-tidurku menampakkanmu dengan pakaian merah itu. Berapa potongkah pakaian berwarna merah yang kau punya? Apa seluruh sudut lemarimu menyimpan lipatan berwarna merah?

                “Kirim saja ke surelku.” Kau sungguh menjawab dengan singkat ketika kutanyai bagaimana aku melengkapai tugas-tugas memuakkan itu. Mulai saat itulah aku jatuh hati pada suara paraumu. Kukira imaji suara tidak dapat bertahan lama., tapi suaramu bahkan mengendap di entah dimana dalam kepalaku. Berani-beraninya kau menembus adegan di mimpiku yang jujur saja tak bisa kusengaja.

                Hai lelaki merah. Aneh sekali menamaimu dengan warna yang dibenci Nabi, padahal kau sangat mencintaiNya. Seorang kawanku menyuruhku menamaimu Lelaki Kopi. Sangat pahit memang mengagumimu, tetapi kau akan terasa sungguh manis pada massa yang tepat. Kau tak lain dari cafein, membuatku sulit terpejam. Memejam dari jauhnya jalan menuju pintu rumahmu, begitu pula menuju pintu manifestasi mimpi menjijikkanku terhadapmu.

                Lelaki kopi, kau sangat rumit seperti rumitnya memahami dirimu yang dalam secangkir kecil berharga fantastis. Kalau dipikir, tak bakalan aku sanggup membelimu. Kau kopi dengan segala rasa, segala raja. Mustahil wanita-wanita itu tak tertarik padamu. Seberapapun pahit, mereka tidak akan mengernyit. Kau kopi yang setiap pagi sungguh ingin kuteguk, buat mengawali semua hari-hariku yang busuk. Tapi aku tak punya uang, ah….tunggulah aku dapat undian jutaan sayang, diantara tujuhbelas hingga duapuluhtiga besok.

 

                                                                                                                                0109- 1435

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s